DI YOGYAKARTA — Perempuan 36 tahun ini mulai menyelam di perairan Youngrak-ri pada Januari 2024. Awalnya, lamarannya ditolak karena statusnya sebagai orang asing. Namun, setahun kemudian, komunitas haenyeo setempat melonggarkan aturan dan memberinya kesempatan mengikuti wawancara. Kini, Genter telah diterima dan terus menyelam bersama para haenyeo senior.
"Dia bahkan lebih baik daripada kami, orang Korea dan penduduk asli Jeju, dalam menyelam. Saya sangat menyukainya," ujar Hong, yang mengaku menganggap Genter seperti anaknya sendiri.
Bagi Genter, ini adalah tanggung jawab besar. "Saya tidak berpikir sedang membuka jalan. Sebagai orang asing yang melakukan ini, terutama karena saya bukan warga negara Korea, ini adalah tanggung jawab besar," katanya.
Kehadiran Genter juga berdampak langsung pada desa. Kim Chang-sik, Kepala Perikanan Youngrak-ri, mengakui banyak wisatawan datang untuk melihat sekaligus mewawancarai haenyeo asal Amerika itu. "Desa kami memiliki haenyeo Amerika pertama, jadi banyak orang datang untuk mewawancarainya!" ucap Kim.
"Suhu laut yang tinggi membuat banyak rumput laut menghilang. Padahal kami membutuhkan rumput laut agar kerang bisa datang dan memakannya. Kerang tidak datang karena air laut terlalu hangat," jelas Kim.
Kondisi ini membuat profesi haenyeo semakin sulit dijadikan sumber penghasilan utama. Meski begitu, Genter memilih bertahan dan berkomitmen memperkenalkan tradisi ini lewat media sosial dan podcast.
"Ini adalah komitmen seumur hidup. Saya akan tinggal di desa ini dan meninggal di desa ini. Kalau kalian siap melakukan itu, cobalah!" tegas Genter.
Bagi traveler yang ingin menyaksikan tradisi haenyeo secara langsung, desa Youngrak-ri bisa menjadi destinasi budaya yang unik. Namun, perlu dicatat bahwa aktivitas menyelam haenyeo sangat bergantung pada kondisi cuaca dan laut. Informasi terkini mengenai jadwal dan kesempatan berinteraksi dengan para haenyeo sebaiknya dikonfirmasi melalui kantor pariwisata setempat sebelum berkunjung.