BANTUL — Pameran buku Big Bad Wolf (BBW) 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul, langsung diwarnai antrean panjang sejak pintu dibuka. Fenomena yang menonjol tahun ini bukan sekadar banyaknya pengunjung, melainkan perubahan selera pembaca: buku anak dengan fitur interaktif seperti pop-up dan suara menjadi barang paling laris, menggeser buku cerita bergambar konvensional.
Pameran yang berlangsung 3-13 September itu bertepatan dengan Hari Aksara Internasional dan awal masa perkuliahan aktif. Penyelenggara mencatat jumlah antrean di hari pertama justru lebih besar dibandingkan edisi tahun lalu, sebuah sinyal bahwa minat baca masyarakat Jogja terus menguat.
Rifa, penyedia layanan jastip asal Jogja, sudah berada di lokasi sejak pukul 09.00 WIB. Ia datang bukan untuk diri sendiri, melainkan memenuhi puluhan pesanan pelanggan yang memintanya memborong buku anak tertentu.
“Saya datang dari jam sembilan pagi. Memang niatnya buat jastip, dari tahun lalu juga sudah buka jastip di acara ini,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kesibukannya mendokumentasikan rak buku.
Menurut Rifa, pola permintaan pelanggan berubah drastis dalam dua tahun terakhir. Konsumennya yang terdiri dari ibu rumah tangga hingga working mom kini tak sekadar mencari buku cerita. Mereka memprioritaskan buku referensi yang dikemas lewat narasi, lengkap dengan ilustrasi dan sisipan pengetahuan umum.
“Kebanyakan belinya buku yang referensi. Jadi cerita, tapi ada ilmu pengetahuannya dan bergambar,” pungkasnya.
Cara kerja jastip yang dilakukan Rifa sederhana: ia memotret deretan sampul buku yang tersedia di arena, mengunggahnya ke saluran komunikasi, lalu menawarkan ke calon pembeli sebelum memproses pesanan. Metode ini menjadi solusi bagi mereka yang tak sempat datang langsung ke lokasi pameran yang luasnya mencapai ribuan meter persegi itu.
Di luar pembeli jarak jauh, pengunjung langsung juga tak kalah antusias. Susi, seorang nenek asal Kotagede yang datang ke JEC, mengaku selalu hadir setiap tahun sejak BBW pertama kali digelar di Jogja. Ia datang dengan misi spesifik: membeli buku pembelajaran untuk cucunya yang berusia di bawah enam tahun.
“Jadi buku-bukunya bagus buat belajar cucu saya, ada banyak pilihannya dan cocok untuk anak-anak,” kata Susi saat terlihat memilah-milah buku di rak bertanda children's corner.
Susi termasuk pembeli yang selektif. Ia sengaja mencari buku anak yang dilengkapi gambar dan fitur suara interaktif. Baginya, kombinasi itu membantu anak memahami materi yang disampaikan lewat buku tanpa harus bergantung pada telepon seluler.
“Misalnya mengenalkan binatang, nanti ada gambar dan suaranya, jadi tidak harus ke kebun binatang,” jelasnya. Ia juga rutin membelikan buku dongeng untuk dibacakan sebelum cucunya tidur sebagai pengganti paparan radiasi cahaya gawai.
Fenomena serupa diakui Country Director Big Bad Wolf Book Indonesia, Mathias Wandi Budianto. Ia menuturkan bahwa buku anak impor kini menghadirkan inovasi yang jauh lebih kaya dibanding edisi-edisi sebelumnya. Teknologi pop-up dan sound diintegrasikan langsung ke dalam halaman buku sehingga pengalaman membaca anak menjadi lebih menyenangkan dan imersif.
“Jadi, dia ada teknologi pop-up-nya, ada teknologi sound-nya, lebih interaktif, jadi pengalaman membaca anak tuh jauh lebih menyenangkan,” ujarnya.
Mathias mengungkapkan bahwa keputusan memajukan jam buka pameran ternyata berbanding lurus dengan animo pengunjung. Alih-alih sepi, antrean di pintu masuk justru membeludak dibandingkan hari pertama BBW tahun sebelumnya.
“Ternyata begitu kita mulai lebih awal pun jumlah antriannya justru lebih besar daripada tahun lalu,” katanya.
Ia menilai penyelenggaraan BBW 2026 yang bertepatan dengan Hari Aksara Internasional menjadi momentum strategis. Masa aktif perkuliahan juga dinilai turut mendongkrak jumlah pengunjung dari kalangan mahasiswa dan akademisi yang mencari buku referensi.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Zulfa Kurniawan, menilai gelaran semacam BBW memiliki peran lebih dari sekadar transaksi jual-beli buku. Kehadiran pameran ini menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan yang mendorong tumbuhnya minat baca sekaligus menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Satu buku dapat mengubah cara seseorang memahami dunia. Dari satu pembaca, perubahan itu dapat tumbuh menjadi perubahan masyarakat,” katanya di Bantul, Kamis.
Ia menambahkan, tingkat literasi yang baik mampu mendorong perubahan cara pandang seseorang dalam memahami lingkungan sekitarnya. DPAD DIY menyambut baik penyelenggaraan BBW karena sejalan dengan upaya pemerintah daerah menumbuhkan budaya baca sejak usia dini. Gelaran yang berlangsung hingga 13 September ini diprediksi akan terus ramai dikunjungi pada akhir pekan, dengan buku anak interaktif sebagai daya tarik utamanya.