DI YOGYAKARTA — Regulasi ini menyasar langsung aktivitas wisatawan yang tengah berada di wilayah terdampak, mengingat risiko gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga kecelakaan lalu lintas meningkat signifikan saat abu vulkanik beterbangan.
Poin pertama yang ditekankan dalam edaran tersebut adalah larangan menggunakan sepeda motor saat hujan abu berlangsung. Partikel halus abu vulkanik sangat mudah terhirup ketika seseorang berada di atas kendaraan roda dua tanpa pelindung.
Selain mengancam kesehatan saluran pernapasan, abu vulkanik juga menciptakan kondisi jalan yang licin dan mengurangi jarak pandang secara drastis. Kombinasi ini meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas secara signifikan.
Bagi traveler yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, Kemenkes mewajibkan penggunaan masker berstandar tinggi seperti N95, KN95, KF94, atau FFP2. Masker medis biasa hanya diizinkan sebagai perlindungan sementara apabila masker standar belum tersedia.
Perlindungan mata juga menjadi prioritas. Penggunaan kacamata pelindung tertutup atau goggles diwajibkan saat berada di area terbuka. Jika abu mengenai mata, dilarang keras menguceknya—bilas segera dengan air mengalir untuk mencegah iritasi lebih lanjut.
Satu imbauan penting lainnya: hindari penggunaan lensa kontak selama periode ini. Partikel abu vulkanik yang sangat kecil dapat menyelinap ke sela-sela lensa dan menyebabkan ketidaknyamanan ekstrem hingga kerusakan kornea.
Kemenkes juga mengatur protokol pasca-aktivitas. Selama berada di luar, traveler wajib mengenakan pakaian lengan panjang, celana panjang, dan alas kaki tertutup untuk meminimalkan kontak abu dengan kulit.
Setibanya di penginapan atau rumah, segera mandi dan ganti seluruh pakaian yang telah terpapar abu vulkanik. Langkah ini penting untuk mencegah partikel halus yang menempel di kain menyebar ke area lain atau terhirup oleh anggota keluarga lain.
Di luar lima aturan utama tersebut, traveler di wilayah terdampak diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari Badan Geologi dan BPBD setempat. Membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak menjadi langkah paling efektif untuk menghindari risiko kesehatan dan keselamatan.
Bagi yang sedang dalam perjalanan darat menuju kawasan terdampak, pertimbangkan untuk menunda perjalanan atau mencari rute alternatif yang tidak berada di jalur sebaran abu. Informasi terkini mengenai sebaran abu dan kondisi jalan dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi pemerintah daerah setempat sebelum memulai perjalanan.