DI YOGYAKARTA — Athena sering dikunjungi wisatawan pada puncak musim panas, tapi kota ini justru menunjukkan sisi lain saat musim gugur tiba. Agapi Sbokou, co-owner dan CEO brand hotel Yunani Ph?ea, tinggal di Athena sejak usia 18 tahun dan menyaksikan bagaimana kota itu berubah tiap musim.
"Alive. That's how Athens feels to me," kata Sbokou, menggambarkan Athena yang selalu terasa hidup. Baginya, kota ini tidak pernah berhenti bertransformasi dan terus menawarkan sesuatu untuk dijelajahi sepanjang hidup.
Sbokou merekomendasikan April dan Oktober atau November sebagai periode ideal berkunjung. Musim semi menghadirkan bunga-bunga bermunculan dengan aroma khas di seluruh kota, sementara musim gugur menawarkan cuaca yang lebih sejuk dan nyaman.
"In autumn, the weather is very mellow. There's still the warmth from the summer, and there is very little rain, so it's very pleasant and you can walk around all day," ujarnya.
Cahaya matahari di musim gugur juga berbeda dari musim panas. Warnanya lebih kekuningan dan lembut, bukan cahaya Yunani klasik yang terik. Penduduk lokal mulai kembali dari pulau-pulau, tapi masih sempat berenang di laut karena suhu yang relatif hangat.
Musim gugur menghadirkan tipe wisatawan yang berbeda. Mereka yang datang pada periode ini cenderung menikmati kota dengan lebih lambat, tidak sekadar berburu foto atau mencentang daftar tempat wisata.
"People who come during this season have a slower appreciation of the city," kata Sbokou. Ia menyarankan menghabiskan dua jam di kedai kopi untuk mengobrol dengan orang di meja sebelah, atau tiga jam di museum alih-alih hanya satu jam.
Athena punya banyak museum yang layak dijelajahi, termasuk Benizelos Mansion yang merupakan rumah tertua di kota, atau Benaki Museum dengan koleksi Nema. Menurut Sbokou, semua tempat ini tidak harus dikunjungi dalam satu perjalanan.
Yang membuat Athena istimewa adalah kehidupan lingkungannya. Penduduk memulai hari di kedai kopi lokal, lalu mampir ke tukang cukur, toko kelontong, dan penatu di sekitar rumah. Mereka berhenti sebentar untuk bertukar sapaan.
Rasa komunitas begitu kuat hingga beberapa toko mengizinkan pelanggan tetap berutang dan mencatatnya di buku, lalu dibayar akhir bulan. "Athens feels like a village, even though it's a city of four million," ujar Sbokou.
Pohon jacaranda dengan bunga ungu kecil bermekaran di beberapa lingkungan dan mengubah pemandangan sekitarnya. Di area lain, pohon jeruk pahit mengeluarkan aroma kuat saat berbunga.
Sbokou lebih memilih restoran yang sudah bertahan 20, 30, bahkan 50 tahun dibanding tempat baru. Salah satu favoritnya adalah Manári Taverna di pusat kota, tepat di samping gereja Bizantium, yang menyajikan masakan tradisional dengan pengaruh Kreta yang kuat.
Ia juga menyebut Pharaoh, restoran dengan konsep masakan yang dimasak lambat di atas kayu bakar. Generasi baru restoran yang mengangkat masakan Yunani bermunculan, tapi Sbokou tetap setia pada tempat lama karena bisa mengenal orang-orangnya.
Durasi ideal untuk menikmati Athena tanpa terburu-buru adalah empat hingga lima hari. Waktu tersebut cukup untuk menjelajahi museum, duduk lama di kedai kopi, dan merasakan kehidupan lingkungan seperti yang dilakukan penduduk lokal.