100 Difabel di 5 Kabupaten/Kota DIY Belajar Membatik, Jogja Bidik Sentra Batik Difabel Indonesia

Penulis: Hendri Saputra  •  Kamis, 17 September 2026 | 11:16:31 WIB

JOGJA — Sebanyak 100 penyandang disabilitas dari lima kabupaten/kota di DIY mengikuti pelatihan membatik di Pendopo Wiyotoprojo, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (16/9/2026). Setiap kabupaten dan kota mendapat kuota 20 peserta yang dipilih melalui jejaring komunitas penyandang disabilitas setempat.

Kegiatan ini mempertemukan Komunitas Difabel Zone, dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) Mandiri Utama Finance, dan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Peserta merupakan penyandang disabilitas yang memiliki minat belajar membatik serta ingin memanfaatkan keterampilan tersebut agar lebih produktif dan mandiri.

Pendampingan Berlanjut Sebulan, Ditutup 3 Desember

Founder Difabel Zone Lidwina Wuri mengatakan program ini tidak berhenti di pelatihan sehari. Pendampingan akan berjalan satu bulan penuh, termasuk kunjungan ke rumah peserta untuk memantau perkembangan mereka.

"Jadi ini berupa program yang nantinya akan berjalan satu bulan, akan ada pendampingan dari Difabel Zone. Kita juga akan datang ke rumah mereka untuk bersilaturahmi dan memantau sejauh mana mereka menjalankan program ini," ujarnya ditemui di sela-sela acara membatik.

Penutupan kegiatan dijadwalkan pada 3 Desember, bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional. Pada momentum tersebut juga akan dideklarasikan gerakan bersama para pembatik difabel di Jogja.

Batik Difabel Jogja Tembus Pasar Eropa hingga Jepang

Produk batik Difabel Zone telah diekspor ke sejumlah negara di Eropa, Australia, dan Jepang. Wuri menyebut respons pasar nasional dan internasional mulai membaik pasca Covid.

"Kalau dari Difabel Zone 10 tahun kami berada di komunitas ini, alhamdulillah respon pasar baik nasional dan internasional sudah mulai membaik pasca Covid," jelasnya.

Harga batik tulis yang dijual di pasaran berada pada kisaran Rp500.000 hingga Rp5 juta, bergantung pada lama proses pengerjaan. Untuk totebag souvenir, harga dibanderol mulai Rp50.000 hingga Rp250.000.

Sejumlah motif khas sudah dipatenkan, di antaranya Batik Janur dari Difabel Zone yang telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Pada acara ini juga dirilis Ability Batik (AB Batik) yang akan menjadi identitas baru para pembatik difabel Jogja.

Peserta Minta Pelatihan Berlanjut dengan Akses Pasar

Salah satu peserta dari Sleman, Endang Sundayani, menyebut pelatihan membatik menjadi pengalaman baru baginya. Perempuan berusia 49 tahun yang menggunakan kursi roda itu sehari-hari menghabiskan waktu dengan merajut dan menyanyi.

"Ini pertama kali baru belajar. Jadi saya juga udah bilang nanti sama gurunya, saya nggak tahu ya mampu apa nggak. Yang penting saya mencoba dulu," ujar Endang.

Karya rajutan Endang telah dijual dalam sejumlah pameran, termasuk pameran Pemda hingga Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Ia berharap kegiatan membatik tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut dengan akses pasar bagi peserta yang sudah mampu membatik.

"Jadi kita cari peluangnya, nggak cuma pelatihan aja, tapi ada kesinambungan buat nantinya," paparnya.

Penjualan Tembus 15 Toko, Termasuk Bandara YIA

Peserta sekaligus mentor dari Difabel Zone, Suhartono, 45, mengatakan masih banyak penyandang disabilitas yang menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan karena kondisi mereka. Difabel Zone berupaya memberdayakan mereka melalui pekerjaan berisiko rendah, dan membatik menjadi salah satu pilihan karena dapat dilakukan oleh penyandang disabilitas dengan berbagai kondisi.

"Mereka bisa bekerja, bisa menghasilkan mungkin uang untuk pribadi dan juga keluarga mereka juga," ucapnya.

Penjualan batik dilakukan secara online dan offline di sekitar 15 toko, termasuk di Bandara YIA. Menurut Suhartono, tantangan dalam membatik kembali pada kemauan masing-masing individu.

Puncak kegiatan nantinya diisi pameran dan fashion show yang melibatkan sejumlah desainer lokal Jogja. Wuri menyebut pihaknya akan meminta arahan dari Gusti Putri yang dinilai lebih memahami bidang batik.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top