SLEMAN — Tim mahasiswa UGM yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karya Inovatif (PKM-KI) merancang Lingo sebagai media belajar membaca yang menyerupai permainan. Anak berlatih mengenali abjad, mengucapkan suku kata, sekaligus menstimulasi kemampuan motorik dan auditori melalui interaksi langsung dengan perangkat.
Dosen pendamping tim, Dina, menyebut pendekatan itu sengaja dipilih agar anak tetap mendapat stimulasi tanpa harus menatap layar gawai. "Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar literasi yang interaktif melalui permainan, sehingga anak dapat berlatih tanpa harus bergantung pada gawai," ujarnya.
Lingo memakai sensor, mikrofon, speaker, DFMiniplayer, dan mikrokontroler ESP32-S3 untuk mengenali serta mengevaluasi pelafalan anak. Ketika anak mencoba mengucapkan suku kata, sistem memproses suara yang diterima dan memberi umpan balik audio secara langsung.
"Ketika anak mencoba mengucapkan suku kata, sistem akan memproses suara yang diterima dan memberikan umpan balik sehingga anak dapat mengetahui respons dari latihan yang dilakukan," tutur Dina.
Umpan balik itu menjadi kunci. Anak bisa langsung tahu apakah pelafalannya sudah tepat atau perlu diulang, tanpa perlu menunggu koreksi guru di kelas.
Perangkat ini terhubung dengan sistem pemantauan berbasis situs web melalui teknologi Internet of Things (IoT). Riwayat latihan dan hasil evaluasi anak tercatat otomatis, sehingga guru maupun orang tua dapat melihat perkembangan literasi dari waktu ke waktu.
"Data hasil latihan dapat menjadi bahan bagi guru dan orang tua untuk melihat perkembangan literasi anak dan menentukan pendampingan yang sesuai," ungkap Dina.
Dengan cara itu, pendampingan bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Guru tidak lagi hanya mengandalkan pengamatan di ruang kelas.
Tim telah menguji penggunaan Lingo di TK Budi Mulia Al Bayaan untuk melihat kesesuaian desain dan fungsi dengan pola interaksi anak usia dini. Hasil pengujian menjadi bahan evaluasi sebelum perangkat disempurnakan.
"Pengujian di lapangan membantu kami melihat bagaimana anak berinteraksi dengan Lingo sekaligus menjadi bahan untuk menyempurnakan desain dan fungsinya," ujar Miftahul.
Saat ini prototipe Lingo sedang dalam proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Desain Industri. Tim berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan sebagai alat permainan edukatif yang mendukung guru dan orang tua dalam pembelajaran literasi dasar anak.
"Kami merancang Lingo sebagai media yang dapat membuat proses belajar membaca terasa seperti bermain, sehingga anak tetap mendapatkan stimulasi sambil berinteraksi langsung dengan alat," kata Dina.