SLEMAN — Direktur Utama KAI Services Krisna Arianto menekankan bahwa menjadi talenta unggul tidak ditentukan semata oleh tinggi rendahnya kompetensi teknis. Menurut dia, kemauan belajar berkelanjutan, kemampuan beradaptasi, dan tanggung jawab di lingkungan kerja menjadi penentu utama.
Krisna menyampaikan hal tersebut di hadapan mahasiswa UNY dalam forum bimbingan karier yang digelar secara luring dan daring. Ia menyoroti pentingnya pola pikir kepemimpinan sebagai fondasi pengembangan diri mahasiswa.
Kepemimpinan Tidak Ditentukan Jabatan
Dalam paparannya, Krisna menyebut kepemimpinan bukan soal posisi atau jabatan formal. Yang menentukan, katanya, adalah kemampuan melihat peluang dan ketepatan mengambil keputusan.
Nilai tersebut dinilainya menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk membangun karakter sekaligus kompetensi sebelum benar-benar masuk ke dunia profesional. Mahasiswa tidak cukup dibekali teori, tetapi juga perlu memahami dinamika nyata yang bergerak cepat di industri.
"Menjadi talenta unggul bukan hanya tentang seberapa tinggi kompetensi yang kita miliki, tetapi juga bagaimana kita memiliki kemauan untuk terus belajar, beradaptasi, mengambil tanggung jawab, dan memberikan kontribusi terbaik di lingkungan tempat kita berada," ujar Krisna.
Mahasiswa Sambut Kolaborasi Industri dan Kampus
Seorang mahasiswa UNY bernama Adi mengaku terbantu dengan kehadiran praktisi dari dunia industri dalam forum tersebut. Ia menilai materi yang disampaikan memberi gambaran lebih konkret soal tuntutan kerja setelah lulus.
"Senang sekali dengan acara ini karena bisa menambah pengetahuan dari para pembicara yang sukses di bidangnya masing-masing. Salah satu yang saya suka adalah kehadiran Dirut KAI Services yang memberikan motivasi bagaimana agar kita memiliki kemauan untuk terus belajar, beradaptasi, mengambil tanggung jawab, dan memberikan kontribusi terbaik," ujar Adi.
Bukan Sekadar Pemenuhan Kebutuhan Perusahaan
KAI Services menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari kontribusi yang lebih luas, tidak hanya untuk kebutuhan internal perusahaan. Perusahaan menyebut langkah ini sebagai ikhtiar membangun generasi inovatif yang berdampak bagi masyarakat.
Pertukaran wawasan antara praktisi industri dan civitas akademika diharapkan membantu mahasiswa menentukan arah karier sesuai kebutuhan pasar kerja. Kolaborasi semacam ini juga disebut membuka ruang hubungan lebih erat antara kampus dan dunia usaha di Yogyakarta.