Kementerian Kehutanan mendorong perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta, ambil bagian dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui riset dan teknologi. Dorongan itu disampaikan pada kegiatan UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026 di Yogyakarta, Selasa, yang mempertemukan sekitar 350 peserta dari berbagai kampus.
YOGYAKARTA — Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kemenhut Dyah Murtiningsih menyebut risiko karhutla meningkat akibat kondisi iklim serta aktivitas manusia. Karena itu, kampus diminta tidak berhenti pada penghijauan fisik, tetapi masuk ke ranah kebijakan dan teknologi.
Peran Riset: Pantau Titik Panas hingga Lahan Gambut
Dyah merinci sejumlah kontribusi yang bisa diambil perguruan tinggi, mulai dari pemantauan titik panas berbasis satelit, pemantauan lahan gambut, penguatan masyarakat peduli api, hingga dukungan terhadap pencegahan kebakaran.
"Perguruan tinggi dapat mengambil bagian melalui riset dan teknologi, antara lain pemantauan titik panas berbasis satelit, pemantauan lahan gambut, penguatan masyarakat peduli api, hingga dukungan terhadap pencegahan kebakaran," katanya.
Kampus juga didorong menjadi Center of Excellence yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebijakan, serta teknologi dengan kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi Lewat KKN Tematik dan Perhutanan Sosial
Bentuk kolaborasi yang ditawarkan tidak berhenti di laboratorium. Dyah menyebut KKN tematik, magang, rehabilitasi lahan, konservasi, perhutanan sosial, sampai pengembangan keanekaragaman hayati sebagai jalur yang bisa ditempuh mahasiswa dan dosen.
"Kolaborasi dapat dilakukan melalui KKN (kuliah kerja nyata) tematik, magang, rehabilitasi lahan, konservasi, perhutanan sosial, serta pengembangan keanekaragaman hayati," ujarnya.
Gubernur DIY: Ukuran Kampus Hijau Bukan Sekadar Banyak Pohon
Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti membacakan sambutan Gubernur DIY. Menurutnya, kampus berkelanjutan bukan sekadar kampus yang dipenuhi pepohonan, punya gedung hemat energi, atau mengurangi sampah.
"Ukuran sesungguhnya terlihat ketika perubahan itu masuk ke dalam cara kampus dikelola, ilmu pengetahuan dikembangkan, hingga ribuan mahasiswa membentuk kebiasaan yang kemudian dibawa ke tengah masyarakat," katanya.
Keberlanjutan, lanjut dia, harus menjadi bagian dari tata kelola, operasional, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga akuntabilitas publik.
350 Peserta dan Peran Digitalisasi dalam Pemeringkatan
Kegiatan bertema Advancing Sustainable Campuses through Governance, Digitalization, and Integrated Performance itu diikuti sekitar 350 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Ketua Panitia UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026 Indra Wijaya Kusuma menyebut digitalisasi sebagai jembatan agar upaya keberlanjutan di bidang lingkungan, energi, sampah, transportasi, pendidikan, dan tata kelola berjalan efektif sekaligus terukur.
Ia menegaskan UI GreenMetric tidak semata ajang pemeringkatan, tetapi juga tolok ukur bagi kampus untuk belajar, membandingkan praktik baik, dan memperbaiki kinerja keberlanjutan.
Dengan begitu, angka dan indikator tidak berhenti sebagai capaian administratif, melainkan menjadi dasar melihat perubahan yang benar-benar terjadi di lingkungan kampus.