Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggerakkan lebih dari 5.000 petani yang tergabung dalam Jamaah Tani Muhammadiyah untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi sektor pertanian di berbagai daerah. Langkah itu ditempuh dengan mengembangkan varietas unggulan padi, sayur, perkebunan, hingga peternakan sekaligus mendorong kaderisasi petani muda dari generasi Z dan milenial.
YOGYAKARTA — Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah Dr M Nurul Yamin menyatakan konsolidasi JTM kini mencakup lebih dari 5.000 petani dengan beragam komoditas. Pengembangan tidak terbatas pada padi, tetapi juga merambah bidang sayur, perkebunan, dan peternakan.
"Kita mengembangkan beberapa varietas unggulan di varietas padi ini, juga di bidang sayur maupun di bidang perkebunan serta peternakan," kata Nurul Yamin di Yogyakarta.
Muhammadiyah menyoroti usia mayoritas anggota JTM yang sudah lanjut. Kondisi itu dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan sektor pertanian ke depan.
"Menjadi tantangan untuk masa depan pertanian kita. Bagaimana pelaku pertanian ini bisa mewariskan kepada generasi yang akan datang," ujarnya.
Karena itu, Muhammadiyah fokus melakukan kaderisasi petani muda, baik generasi Z maupun milenial. Mahasiswa pertanian di seluruh Indonesia, khususnya di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, turut dilibatkan.
"Termasuk melibatkan para mahasiswa pertanian di seluruh Indonesia, khususnya di Perguruan Tinggi Muhammadiyah," ujarnya.
Nurul Yamin menilai persoalan sektor pertanian bukan hanya berasal dari internal petani, tetapi juga faktor cuaca. Banyak daerah belakangan mengalami kekeringan.
"Pendekatan ilmu pengetahuan untuk pertanian lahan kering menjadi sangat penting dalam konteks ini," ujarnya.
Salah satu program yang diluncurkan untuk menjaga kebutuhan pangan adalah pertanian perkotaan atau urban farming dengan memanfaatkan lahan di wilayah perkotaan.
"Paling tidak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga," katanya.
Petani muda asal Temanggung, Jawa Tengah, Muhammad Fadilah Al-Amin menyampaikan keresahan terkait minimnya generasi Z yang mau menjadi petani. Pandangan negatif terhadap profesi itu disebut jadi penyebab utama.
"Banyak Gen Z itu berpikir bahwa petani itu kotor," katanya.
Fadilah berharap diskusi pertanian yang digelar PP Muhammadiyah dapat mengubah pola pikir generasi muda bahwa pertanian tidak seburuk yang dibayangkan. Dengan begitu, mereka mulai tertarik dengan dunia pertanian.
"Dari sini mungkin bisa membuka wawasan kepada Gen Z bahwa pertanian itu bisa dimajukan oleh Gen Z itu sendiri," ujarnya.
Di daerah tempat tinggalnya, lahan tanam tersedia luas. Namun karena banyak anak muda tidak menyukai pertanian, banyak lahan akhirnya dikelola petani lanjut usia.
"Anak-anak muda sekarang malah pada perginya kerja ke perusahaan, jadi pegawai dan merantau," katanya.