Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong penerapan Jam Belajar Masyarakat (JBM) di seluruh kelurahan dan kemantren untuk memperkuat predikat kota pendidikan. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meminta setiap kegiatan JBM punya output terukur dan diawasi langsung oleh lurah setempat. Program pendampingan dari perguruan tinggi juga diarahkan ikut mengawal gerakan belajar ini.
YOGYAKARTA — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan Jam Belajar Masyarakat bukan sekadar imbauan. Kegiatan itu harus diimplementasikan betul di tingkat kelurahan dan kemantren, dengan pengawasan yang jelas dari perangkat wilayah.
"Saya ingin Jam Belajar Masyarakat itu diimplementasikan betul di Kota Yogyakarta, dan betul-betul bisa menjadi 'best practice' (praktik baik)," kata Hasto di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, JBM menjadi penanda sekaligus pengisi predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar dan pendidikan. Tanpa pelaksanaan nyata di masyarakat, predikat itu dinilai hanya tinggal nama.
Hasto menyebut keberhasilan pendidikan anak tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke sekolah. Keluarga dan lingkungan tempat tinggal ikut menentukan, dan di situlah JBM berperan.
"Karena untuk mengisi predikat Kota Yogyakarta sebagai kota pelajar harus ada tandanya, jam belajarnya bagus, kemudian pendidikannya juga bagus," ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, ada petugas yang mengawasi dan mendampingi di tiap wilayah. Lurah dan jajaran kemantren diminta memastikan kegiatan berjalan, bukan hanya hadir saat pembukaan.
Wali kota menitipkan agar setiap kegiatan JBM menghasilkan capaian yang bisa diukur. Pengawasan lurah disebut sebagai bagian dari rantai pengendalian program.
"Kami juga titip untuk Jam Belajar Masyarakat itu harus ada output-nya. Makanya bapak ibu Lurah juga ikut mengawasi menjadi bagian dari pengawasan," kata Hasto.
Pemkot berharap program pendampingan dari perguruan tinggi ke wilayah diarahkan turut mengawal JBM. Yogyakarta sendiri memiliki sejumlah program pendukung seperti Bule Mengajar dan Kampung Inggris.
Sejumlah inisiatif itu dipandang sebagai atribut yang memperkuat identitas kota pelajar. Hasto menyebut perlu ada karya non-benda yang melekat pada predikat Kota Yogyakarta.
"Semua itu sebagai atribut-atribut untuk Yogyakarta Kota Pelajar, karena itu harus ada karya-karya non benda yang kemudian menjadi atribut predikat Kota Yogyakarta," katanya.
Dengan pengawasan berlapis dari kelurahan, kemantren, dan kampus, Pemkot Yogyakarta menargetkan JBM tidak berhenti sebagai program seremonial. Evaluasi output menjadi kunci agar gerakan belajar ini bertahan jangka panjang.