DI YOGYAKARTA — Benediktus resmi menyandang gelar fisioterapis setelah dinyatakan kompeten dalam ujian kompetensi nasional pada prosesi Sumpah Profesi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Fisioterapis tim Persib Bandung itu menempuh pendidikan profesi dua semester sambil tetap mendampingi para pemain di lapangan dan mengelola dua klinik fisioterapi di Kota Bandung.
Pria yang sehari-hari bertugas sebagai fisioterapis tim Persib Bandung ini memilih kembali ke bangku kuliah di tengah kesibukan mendampingi atlet profesional. Ia mengaku mendapat rekomendasi dari rekan sejawat soal kualitas pengajaran di UMPP.
Jarak Bandung-Pekalongan bukan halangan bagi Benediktus. Ia menilai sistem pengajaran di UMPP sesuai dengan kebutuhannya untuk memperbarui ilmu di bidang fisioterapi.
"Saya sudah menyelesaikan tiga S1, akhirnya melanjutkan profesi di UMPP. Banyak teman merekomendasikan karena sistem pengajarannya bagus, dan jarak Bandung-Pekalongan masih memungkinkan," katanya.
Selain menjadi fisioterapis Persib, Benediktus mengelola klinik Bintang Physio dan Kinestera di Kota Bandung. Tuntutan pekerjaan membuatnya harus terus meng-upgrade keilmuan agar pelayanan kepada pasien maupun atlet semakin baik.
"Pekerjaan saya menuntut terus meng-upgrade keilmuan. Itu salah satu alasan saya memilih UMPP," ujarnya.
Selama satu tahun atau dua semester menjalani pendidikan profesi, Benediktus merasakan metode pembelajaran yang interaktif. Dosen tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendorong mahasiswa berpikir kritis untuk mencari solusi atas berbagai persoalan di dunia fisioterapi.
Angkatan pertama Program Profesi Fisioterapi UMPP mencatat kelulusan 100 persen pada ujian kompetensi nasional. Capaian itu menjadi salah satu hal yang disyukuri Benediktus.
Sebagai mahasiswa beragama Katolik, Benediktus sempat memiliki kekhawatiran sebelum memulai perkuliahan di kampus Muhammadiyah. Pengalaman yang ia rasakan justru berbeda.
"Awalnya saya mengira itu akan menjadi obstacle. Tapi setelah masuk, teman-teman, dosen, sampai pimpinan kampus sangat merangkul. Tidak ada diskriminasi. Semua saling menghargai, sehingga saya bisa mengembangkan potensi saya semaksimal mungkin," tuturnya.
Suasana saling menghormati itu membuatnya merasa nyaman selama menjalani pendidikan di Pekalongan. Baginya, gelar profesi bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
"Harapannya ilmu yang saya dapat bisa saya terapkan untuk masyarakat, baik di Bandung, Pekalongan, maupun Indonesia pada umumnya," katanya.
Rektor UMPP, Dr. Nur Izzah, mengingatkan para lulusan bahwa lencana profesi yang disematkan bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
"Jadilah profesional yang humanis dan caring. Tanggung jawab yang besar telah diletakkan di pundak saudara. Ingatlah bahwa Anda bergerak di bidang kemanusiaan yang sangat mulia," ujar Nur Izzah.
Ia juga menegaskan bahwa setiap fisioterapis telah mengucapkan sumpah untuk memberikan pelayanan tanpa membeda-bedakan latar belakang siapa pun.
"Saudara telah berjanji tidak akan membeda-bedakan suku, ras, maupun golongan," tegasnya.