Danantara Dahulukan Merger PTPP-ADHI, WIKA-Waskita Menyusul

Penulis: Kemal Batubara  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 13:54:01 WIB
Danantara memprioritaskan merger PTPP, Adhi Karya, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya sebelum merestrukturisasi BUMN karya lainnya.

DI YOGYAKARTA — Danantara memprioritaskan restrukturisasi dan merger PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Brantas Abipraya, dan PT Nindya Karya sebelum menyentuh emiten karya lain. Keempat perusahaan itu dinilai paling siap digabung karena kondisi keuangannya relatif sehat. Sementara WIKA dan Waskita Karya harus menuntaskan persoalan utang lebih dulu.

Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengatakan proses penggabungan keempat perusahaan itu akan dituntaskan lebih dulu sebelum restrukturisasi menyasar perusahaan pelat merah lainnya. Menurut dia, PTPP, Adhi Karya, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya adalah kelompok yang paling mudah dimerger.

"Ini yang paling mudah dilakukan merger-nya," kata Dony seusai Executive Breakfast Meeting Dua Tahun Danantara di Jakarta, Jumat (2/10).

Mengapa PTPP dan Adhi Karya Digabung Lebih Dulu

Dony menyebut keempat perusahaan itu masuk kategori sehat, sehingga proses merger tidak memerlukan perbaikan aset maupun penurunan utang. Jalur cepat ini ditempuh agar konsolidasi BUMN karya bisa segera menghasilkan entitas yang lebih kuat dari sisi kapasitas proyek dan akses pendanaan.

Adapun PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) butuh penanganan lebih panjang. Keduanya masih menanggung beban utang yang harus ditekan sebelum masuk tahap restrukturisasi.

"Kalau yang Adhi Karya dan lainnya, mereka adalah yang sehat. Jadi hanya WIKA dan Waskita yang akan menjadi persoalan," ujar Dony.

Beban Utang WIKA dan Waskita Jadi Penentu Jadwal

Danantara menilai restrukturisasi WIKA dan WSKT menuntut upaya ekstra, terutama untuk menyehatkan aset dan menurunkan utang. Dony menyatakan kedua perusahaan itu akan digarap setelah kelompok pertama rampung.

"Karena membutuhkan effort kita untuk melakukan restrukturisasi, investasi aset mereka, menurunkan utangnya. Sisanya akan kita restrukturisasi," ucapnya.

Rugi PTPP dan WIKA Membengkak di 2025

Tekanan keuangan emiten BUMN infrastruktur terlihat dari laporan keuangan tahunan 2025. WIKA mencatat rugi bersih Rp 9,70 triliun, membengkak 329,20% dibandingkan 2024 sebesar Rp 2,26 triliun. Pendapatan perseroan anjlok menjadi Rp 13,32 triliun dari Rp 19,24 triliun.

Beban pokok pendapatan memang turun menjadi Rp 12,19 triliun dari Rp 17,72 triliun. Efisiensi itu tidak cukup menahan lonjakan beban lain-lain menjadi Rp 6,37 triliun dari Rp 3,73 triliun, serta bagian rugi ventura bersama yang naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 1,44 triliun dari Rp 606,66 miliar.

PTPP tidak jauh berbeda. Rugi bersih perseroan mencapai Rp 6,07 triliun, melonjak tiga kali lipat dari Rp 1,52 triliun pada tahun sebelumnya. Pendapatan turun menjadi Rp 16,27 triliun dari Rp 19,81 triliun.

Beban pokok pendapatan PTPP turun menjadi Rp 14,81 triliun dari Rp 17,17 triliun. Namun, kerugian penurunan nilai melonjak hampir 20 kali lipat atau sekitar 1.963% menjadi Rp 7,35 triliun dari Rp 356,26 miliar. Pos itu mendorong rugi sebelum pajak PTPP membengkak menjadi Rp 7,72 triliun dari Rp 1,66 triliun.

Alasan PTPP Akui Kerugian Penurunan Nilai

Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, menyebut lonjakan rugi dipengaruhi langkah kehati-hatian melalui pengakuan penurunan nilai aset di entitas anak, pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang, serta penyesuaian nilai persediaan.

"Langkah ini merupakan bagian dari penguatan kualitas aset dan penerapan manajemen risiko yang lebih prudent," ujar Joko dalam keterangan resmi, Jumat (3/4).

Apa Artinya bagi Pemegang Saham PTPP, ADHI, WIKA, dan WSKT

Urutan restrukturisasi ini memberi sinyal berbeda ke pasar. PTPP dan ADHI berpeluang lebih cepat masuk proses konsolidasi, sehingga ketidakpastian struktur usaha keduanya berpotensi lebih pendek. Sebaliknya, WIKA dan WSKT masih menghadapi fase perbaikan neraca yang bisa memakan waktu lebih lama.

Bagi investor, perhatian utama tetap pada dua hal: besaran utang yang harus diturunkan dan dampaknya ke ekuitas perseroan. Pengakuan penurunan nilai yang besar di PTPP dan rugi ventura bersama di WIKA menunjukkan pembersihan aset masih berjalan, dan itu menjadi prasyarat sebelum merger benar-benar dieksekusi.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top