Hari Batik Nasional, 428 UMKM Binaan Pertamina Berkarya Termasuk Libatkan Pekerja Disabilitas

Penulis: Kemal Batubara  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 11:16:31 WIB
Pekerja menyelesaikan proses membatik di UMKM binaan Pertamina di Yogyakarta.

YOGYAKARTA — Pembinaan UMKM batik yang dijalankan Pertamina menyentuh sejumlah daerah, dengan Yogyakarta menjadi salah satu basisnya. Dua usaha binaan di wilayah ini, Roona Batik dan Batik Jinggar, sama-sama mencatat omzet sekitar Rp100 juta per bulan.

Roona Batik berkapasitas produksi 5.000 lembar per bulan. Dari 18 pekerja yang terlibat, sebagian merupakan penyandang disabilitas yang ikut mengambil peran dalam proses produksi.

Batik Jinggar yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih mengembangkan batik sebagai produk fesyen sekaligus menghadirkan inovasi melalui motif dan desain. Usaha ini melibatkan delapan tenaga kerja, termasuk dua penyandang disabilitas.

Riau dan Boyolali Ikut Jadi Bagian Rantai Pembinaan

Di Riau, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan mengangkat kekayaan budaya daerah dalam batik tulisnya. Usaha ini mencatat omzet sekitar Rp150 juta per bulan dan melibatkan delapan pekerja, lima di antaranya penyandang disabilitas.

Program Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah, mengembangkan keterampilan membatik sekaligus mendorong kemandirian ekonomi dan sosial peserta. Kelompok ini kini memiliki workshop, peralatan, dan modal usaha sendiri.

Produk Sriekandi Patra tidak hanya berupa batik dan oleh-oleh khas Boyolali. Mereka mengembangkan paket edukasi membatik dan berkolaborasi dengan desainer.

Mengapa Batik Jadi Pintu Masuk Kemandirian Ekonomi

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyebut batik sebagai contoh pelestarian budaya yang berjalan bersama pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Bagi Pertamina, batik merupakan contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami ingin memastikan semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan mengembangkan usahanya," ujar Baron.

Baron menilai keterlibatan penyandang disabilitas dalam ekosistem UMKM menunjukkan inklusivitas dapat tumbuh dari aktivitas ekonomi yang dekat dengan masyarakat.

"Ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan dan akses pasar, batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian. Inilah semangat yang terus kami dorong melalui pembinaan UMKM Pertamina," katanya.

Dukungan bagi UMKM agar Naik Kelas

Pembinaan yang dijalankan mencakup penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar. Pendekatan itu sejalan dengan peran Pertamina sebagai BUMN energi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.

Lewat pendampingan berkelanjutan, Pertamina mendorong UMKM batik mempertahankan warisan budaya sekaligus memperluas pasar. Harapannya, manfaat ekonomi yang tercipta ikut meluas ke lingkungan sekitar usaha.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: inilahjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top