DI YOGYAKARTA — Ketergantungan Indonesia pada susu impor sudah menyentuh 82% dan berpotensi mencapai 100% dalam tiga tahun ke depan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti harga susu impor yang murah membuat produksi peternak sapi perah lokal sulit terserap industri. Kondisi ini dinilai mengancam keberlangsungan usaha peternak dan ketahanan pangan nasional.
Peringatan itu disampaikan Amran dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Ia menilai persaingan harga yang tidak seimbang menjadi akar masalah terdesaknya peternak lokal.
Amran menjelaskan, masuknya susu impor dengan harga murah membuat hasil produksi peternak lokal sulit diserap industri. Dampaknya, sejumlah peternak terpaksa membuang susu karena tidak mendapatkan pembeli.
"Terus dia tidak beli susunya, beli dari luar negeri. Susunya ini basi akhirnya dia mandi susu. Dia buang saja ke sungai," ujarnya.
Menurut Amran, kondisi tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan usaha peternak sapi perah dalam negeri. Ia khawatir ketergantungan terhadap produk impor semakin meningkat apabila peternak lokal terus tersingkir dari pasar.
Amran menduga ada strategi sistematis di balik membanjirnya susu impor murah ke pasar domestik. Ia menyebut hal itu sebagai upaya membunuh industri dalam negeri dari dalam.
"Dia mau jadikan seperti ini modelnya. Jadi, membunuh dari dalam. Nah, ini caranya, menjual susu murah-murah-murah, akhirnya sudah 82% impor. Nanti 100% mungkin tiga tahun lagi. Ini kelakuannya," kata Amran.
Amran menyinggung persoalan serupa yang pernah terjadi pada komoditas kedelai. Ia menilai persaingan antara petani lokal dan produk impor tidak seimbang karena perbedaan kekuatan produksi maupun harga.
"Ibaratkan kedelai ini dari Amerika, dari negara-negara besar, adidaya. Diperhadapkan dengan Mike Tyson lah, Mike diperhadapkan dengan Ellyas Pical tanpa wasit. Ya mati, habis. Itulah ilustrasinya," tuturnya.
Amran mengingatkan ketergantungan terhadap impor pangan dapat membuat ketahanan nasional semakin rentan. Menurutnya, keberlangsungan produksi pangan dalam negeri perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.
"Kalau ini sudah dikuasai semua, ya kekuatan negara, pertahanan negara sangat rapuh," tutup Amran.
Data ketergantungan susu impor yang mencapai 82% menjadi sinyal bahwa sektor peternakan sapi perah domestik membutuhkan intervensi kebijakan. Tanpa perbaikan harga dan penyerapan produksi lokal, target swasembada susu berisiko semakin jauh dari realisasi.