JCWF 2026 di Jogja Bidik 1.500 Peserta, Dorong Wisata Wellness saat Low Season November

Penulis: Hendri Saputra  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:47:31 WIB
Konferensi pers JCWF 2026 digelar di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).

YOGYAKARTA — JCWF 2026 memasuki tahun keempat penyelenggaraan dengan menggabungkan kekayaan budaya Jawa, pengalaman wellness, kreativitas, dan pariwisata berkelanjutan. Ketua BPPD DIY GKR Bendara menyebut festival sengaja dipertahankan pada November untuk mengurangi kesenjangan antara musim sepi dan musim ramai wisatawan.

Mengapa November Jadi Pilihan Penyelenggara

GKR Bendara menuturkan periode kunjungan wisata di DIY relatif lengang pada November. Festival diharapkan menarik wisatawan pada masa tersebut tanpa menambah kepadatan di musim ramai.

“Budaya adalah ruh utama yang menghubungkan manusia dengan identitasnya,” ujarnya dalam konferensi pers di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).

Filosofi Jawa seperti hamemayu hayuning bawana, sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, serta semangat gotong royong disebut mencerminkan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta. Nilai-nilai itu dinilai relevan dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang mendukung kesejahteraan.

Lima Zona Pengalaman dan 82 Program

JCWF 2026 menghadirkan lima zona pengalaman: Mind & Body, Healing & Therapy, Nature Connection, Creative Expression, dan Culinary Wellness. Pengunjung juga bisa menjelajahi panggung utama, ruang komunitas, pasar produk artisan wellness, area pertemuan bisnis, serta sesi konsultasi satu lawan satu.

Situs resmi JCWF mencantumkan 82 program dalam rangkaian festival. Tiket masuk area festival gratis melalui registrasi, tetapi tidak otomatis mencakup seluruh aktivitas.

Sejumlah program mengharuskan pengunjung mendaftar tersendiri dan membayar biaya partisipasi sesuai ketentuan masing-masing. Calon pengunjung disarankan memeriksa jadwal, kuota, dan biaya setiap program sebelum mendaftar.

Belanja Wisatawan Wellness Dinilai Lebih Besar

Menurut GKR Bendara, segmen wisatawan wellness berpotensi membelanjakan uang lebih besar karena mencari aktivitas, layanan, dan pengalaman yang sesuai minat mereka. Wisatawan segmen ini juga dinilai punya perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Pilihan akomodasi ramah lingkungan, penggunaan air secara bijak, serta pengelolaan sampah menjadi beberapa aspek yang berkaitan dengan kebiasaan berwisata berkelanjutan. BPPD DIY ingin membangun ekosistem pariwisata berbasis cultural wellness yang memberi manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Membatik hingga Jamu Herbal Masuk Paket Wellness

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dispar DIY Ellya Shari mengatakan wisata wellness dapat dikembangkan melalui beragam kegiatan yang menggabungkan budaya dengan pengalaman personal. Membatik, misalnya, tidak hanya memperkenalkan seni tradisional tetapi juga melatih kesabaran.

Gastronomi dan pengenalan jamu herbal disebut dapat menjadi bagian dari wisata yang mengangkat tradisi kuliner lokal.

“Banyak hal sebenarnya yang bisa dikupas dari yang Yogyakarta punya untuk diambil, dimasukkan ke dalam wellness. Jadi bukan hanya beberapa, tapi banyak mulai budaya sampai dengan ke kuliner,” paparnya.

Ellya berharap pengembangan wisata wellness menarik wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya untuk berbagai layanan lokal. Keberhasilan pariwisata, menurutnya, tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan.

“Karena selama ini jika kita hanya mengejar quantity tourism, seringkali itu membuat Jogja tampak penuh, tetapi dampak ekonominya kurang begitu terasa. Ini melibatkan banyak dari hotel, resto, desa wisata, sehingga nanti diharapkan dampak ekonominya dapat merata,” lanjutnya.

Loman Park Hotel Siap Menerima Pengunjung

General Manager Loman Park Hotel Handono Suyatno Putro menyambut penyelenggaraan festival di propertinya. Ia berharap kegiatan ini memperkenalkan potensi wisata wellness kepada masyarakat sekaligus mempertemukan pelaku usaha di bidang tersebut.

“Loman Park Hotel Yogyakarta menyambut dengan kegiatan ini dengan senang, semoga nanti semuanya berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Penyelenggara berharap kekayaan budaya lokal berkembang menjadi pengalaman wisata yang lebih beragam. Selain memperluas pilihan bagi wisatawan, JCWF 2026 diharapkan membuka peluang kolaborasi dan memperluas manfaat ekonomi bagi pelaku usaha daerah.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top