YOGYAKARTA — Kepala Bidang Perencanaan dan Monitoring Evaluasi Disbud DIY Rully Andriani mengatakan program ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Yogyakarta memiliki lebih dari satu warisan budaya yang diakui dunia. “Harapannya masyarakat bisa terfokus bahwa ini sekaligus menjadi bagian dari edukasi bahwa di Yogyakarta ini ada karya-karya budaya Indonesia yang sudah ditetapkan sebagai intangible cultural heritage oleh UNESCO,” ujarnya di Yogyakarta, Senin.
Lima Warisan Budaya dalam Satu Payung Acara
Selama ini, setiap pagelaran budaya seperti perayaan gamelan atau pameran keris kerap digelar secara mandiri oleh komunitas atau instansi berbeda. Dengan Bulan Warisan Dunia, Disbud DIY menyatukan kelimanya dalam satu rangkaian besar. “Jadi, akan ada pencak silat, kemudian ada gamelan, wayang, kemudian ada juga keris. Dan nanti ditutup dengan kegiatan Jogja World Heritage Festival,” kata Rully.
Kewajiban Negara Pemilik Warisan Budaya
Rully menekankan bahwa rangkaian acara ini bukan sekadar seremonial. Setelah sebuah karya budaya ditetapkan sebagai warisan dunia, UNESCO secara berkala meminta laporan tindak lanjut dari negara pemilik. “Ini bagian dari kita menunjukkan bahwa Pemda DIY memiliki komitmen untuk terus melestarikan karya-karya budaya yang sudah ditetapkan sebagai intangible cultural heritage, dan sekaligus menjadi bagian kita mengedukasi ke masyarakat luas,” katanya.
Masyarakat Diingatkan Kembali pada Kekayaan Bangsa
Disbud DIY menilai tidak sedikit warga yang lupa bahwa gamelan, misalnya, telah resmi diakui UNESCO. Melalui Bulan Warisan Dunia, pemerintah ingin membangkitkan kembali rasa bangga terhadap potensi budaya lokal. “Kegiatan ini sebenarnya juga bagian dari kewajiban dari negara pemilik karya budaya tersebut untuk menindaklanjutinya,” imbuh Rully.
Seluruh rangkaian acara terbuka untuk masyarakat umum dan digelar di sejumlah titik di Yogyakarta. Informasi jadwal detail dapat diakses melalui kanal resmi Disbud DIY.