JOGJA — Ketua DPD Hiswana Migas DIY Aryanto Sukoco menyatakan selisih harga antara Pertalite sebagai Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) dan Pertamax nonsubsidi mendorong sebagian konsumen beralih ke BBM bersubsidi. Peralihan itu membuat permintaan terkonsentrasi pada layanan pengisian Pertalite dan memicu antrean di sejumlah SPBU.
Faktor kedua adalah pencatatan dan pelaporan volume penyaluran BBM melalui perangkat EDC, termasuk untuk konsumen kendaraan roda dua. Proses tersebut memakan tambahan waktu pelayanan, terutama pada jam-jam sibuk.
"Namun, dalam pelaksanaannya memerlukan tambahan waktu pelayanan, terutama pada jam-jam sibuk," ujar Aryanto, Sabtu (17/10/2026).
Langkah Percepatan: Tambah Nozzle hingga Buka SPBU Lebih Awal
Pertamina bersama Hiswana Migas DIY telah berkoordinasi dengan seluruh SPBU di DIY untuk mempercepat pelayanan. Optimalisasi dan standardisasi prosedur dilakukan, termasuk memastikan kesiapan peralatan serta jaringan internet SPBU agar pencatatan via EDC berlangsung lebih cepat.
Jumlah nozzle dan operator pengisian Pertalite akan ditambah, khususnya untuk kendaraan roda dua. Petugas khusus juga ditempatkan untuk mengatur dan mengarahkan konsumen saat antrean padat.
"Serta menambah jam operasional pelayanan dengan membuka lebih awal beberapa SPBU yang belum beroperasi selama 24 jam," jelas Aryanto.
Aryanto menegaskan antrean panjang tidak serta-merta menunjukkan kelangkaan BBM. Stok di Terminal BBM Rewulu disebut masih aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat DIY.
Realisasi Penyaluran Lampaui Kuota 3%-7% per 30 September 2026
Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Taufiq Kurniawan menyebut konsumsi BBM bersubsidi meningkat sekitar 6%-7% pada periode Juni-Agustus 2026. Berdasarkan data per 30 September 2026, realisasi penyaluran Pertalite dan solar rata-rata telah melampaui kuota 3%-7%.
Pemda DIY telah mengajukan usulan tambahan kuota Pertalite kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), namun belum mendapat persetujuan. Taufiq mengapresiasi langkah tersebut sebagai respons atas laporan realisasi penyaluran yang terus meningkat.
"[kalau tidak nambah] 100 itu nggak akan cukup sampai dengan akhir tahun, sehingga Pemprov DIY, mengajukan usulan tambahan kuota ke BPH Migas selaku badan pemerintah yang berwenang soal kuota, dan nanti akan didiskusikan dengan DPR RI," paparnya.
Tanpa penambahan kuota hingga akhir tahun, Taufiq memperkirakan kelebihan penyaluran bisa mencapai 10%-15%.
"Nah, diperkirakan nanti kalau, sampai dengan akhir tahun kuotanya tidak bertambah, bisa over 10% hingga 15%," jelasnya.
Stok Pertalite Tujuh Kali Lipat, Solar 11-14 Kali Konsumsi Normal
Meski konsumsi meningkat, Taufiq memastikan stok BBM di DIY dan Jawa Tengah aman. Stok Pertalite mencapai tujuh kali lipat dari konsumsi normal, sedangkan solar tersedia sekitar 11-14 kali lipat.
Persediaan yang terjaga tidak menghapus kewajiban menyesuaikan penyaluran dengan kuota yang ditetapkan. Hiswana Migas DIY dan Pertamina akan terus berkoordinasi dan mengevaluasi distribusi agar pelayanan BBM berjalan lancar.
"Hiswana Migas DIY bersama Pertamina akan terus berkoordinasi dan melakukan evaluasi agar distribusi serta pelayanan BBM kepada masyarakat dapat berjalan semakin baik, lancar, dan optimal," lanjut Aryanto.