Industri Audio Kreatif di Jogja Kian Menjanjikan, Founder Inavoice Beberkan Peluang dan Tantangan di Era AI

Penulis: Hendri Saputra  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 15:39:01 WIB
Founder Inavoice menilai industri audio kreatif di Jogja semakin berkembang seiring kemudahan akses digital.

YOGYAKARTA — Peluang di industri audio kreatif di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, kian terbuka lebar. Jatmiko Kresnatama, atau yang akrab disapa Miko, founder Inavoice Voice Over Agency, menyebutkan bahwa kemudahan akses ke platform digital menjadi pendorong utama pertumbuhan ini.

“Sejak tahun 2020 perkembangan industri audio sangat masif. Banyak banget orang yang pengin masuk ke post-production audio,” ungkap Miko dalam acara Star Playground – Mengenal Industri Kreatif Video di Star FM, Jogja.

Menurut Miko, akses digital yang mudah membuat banyak orang tertarik mempelajari keterampilan audio. Mulai dari recording, mixing, sound design, hingga voice over. Hal ini pun memunculkan ekosistem baru di Jogja.

Belajar Otodidak, Bisa Punya Perusahaan Sendiri

Miko menegaskan bahwa siapa pun bisa membangun usaha di industri audio, meski belajar secara otodidak. Ia sendiri mendirikan Inavoice Voice Over Agency pada 2020 setelah menekuni bidang audio sejak 2007.

“Belajar otodidak bisa punya company post production sendiri atau punya creative agency sendiri. Yang penting bukan hanya membuat produk yang bagus, tapi gimana caranya produk itu bisa ditemukan oleh lebih banyak orang,” tambahnya.

Ia mencontohkan, banyak orang yang mulai membuka kelas pelatihan untuk voice over talent, recording, dan mixing. Fenomena ini menunjukkan bahwa permintaan akan tenaga terampil di bidang audio terus meningkat.

Kebutuhan Voice Over dan Freelance Editor Terus Naik

Di tengah tren konten video pendek, Miko menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap voice over talent dan freelance audio editor akan terus meningkat. Hal ini didorong oleh kebutuhan promosi dari berbagai brand yang tetap terjaga.

“Teknologi terus berkembang sehingga biaya produksi audio semakin murah. Akibatnya, jumlah pelaku di industri ini akan semakin banyak. Selama pasar audio di Indonesia terus bertumbuh dan banyak brand yang beriklan, peluang untuk mendapatkan penghasilan dari industri ini akan selalu ada,” jelas Miko.

AI Bukan Ancaman, Tapi Alat Bantu

Meski kecerdasan buatan (AI) mulai memengaruhi industri audio, Miko menilai teknologi tersebut belum mampu menggantikan kemampuan manusia dalam menyampaikan emosi, karakter, maupun logat tertentu.

“Harapanku sih AI menjadi assisting untuk voice over talent. Jadi mempermudah pekerjaan, bukan menggantikan,” cetus Miko.

Miko optimistis industri audio akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Menurutnya, kebutuhan terhadap layanan audio kreatif akan terus meningkat, meski teknologi AI juga semakin berkembang. Pasar yang terus bertumbuh dan minat masyarakat yang tinggi menjadi modal utama bagi para pelaku industri kreatif di Yogyakarta untuk terus berinovasi.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: radiostar.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top