Bournemouth Siap Debut di Europa League, Lewis Cook: Ini Masalah yang Indah

Penulis: Galih Prayoga  •  Sabtu, 12 September 2026 | 16:20:01 WIB
Bournemouth memastikan tiket ke Europa League setelah finis di posisi keenam Premier League 2025-26.

DI YOGYAKARTA — Vitality Stadium, kandang Bournemouth berkapasitas 12.000 penonton, menjadi venue terkecil yang pernah dipakai klub Inggris di kompetisi Eropa utama. Klub pantai selatan itu melaju ke Europa League lewat finis di posisi keenam Premier League 2025-26, pencapaian tertinggi sepanjang sejarah mereka.

Perjalanan Bournemouth ke kompetisi Eropa bukan cerita semalam. Enam tahun lalu, tepatnya Juli 2020, klub ini terdegradasi dari Premier League setelah kalah bersaing di Goodison Park. Eddie Howe mundur enam hari kemudian, mengakhiri 26 tahun kariernya bersama klub.

Dari Degradasi 2020 ke Panggung Eropa

Setelah turun ke Championship, Bournemouth sempat berada di titik kritis. Kekalahan di semifinal play-off dari Brentford pada musim pertama membuat promosi musim kedua menjadi harga mati. Scott Parker datang, membangun tim yang sulit dikalahkan, dan Dominic Solanke menyumbang 29 gol liga.

Bournemouth finis sebagai runner-up di bawah Fulham dan kembali ke Premier League. Kepulangan itu membuka jalan investasi lebih besar. Bill Foley melalui Black Knight Football Club mengakuisisi klub dengan nilai lebih dari £100 juta pada Desember 2022.

Sejak itu, model rekrutmen Bournemouth berubah. Mereka membeli pemain muda bertalenta dari seluruh dunia, mengembangkan mereka, lalu menjual dengan keuntungan besar. Dango Ouattara, Antoine Semenyo, dan Illia Zabarnyi menghasilkan profit gabungan lebih dari £105 juta saat dijual musim lalu.

Gol Antoine Semenyo yang Mengubah Arah Musim

Momen paling dramatis musim lalu terjadi pada Januari 2026. Semenyo, yang sudah mencapai kesepakatan pindah ke Manchester City, tetap bermain melawan Tottenham di Vitality Stadium. Laga menuju imbang 2-2, dan Bournemouth sedang dalam tren 11 pertandingan tanpa kemenangan.

Dengan sisa detik, Semenyo menerima bola di sayap kiri, melepaskan tembakan rendah dari jarak 25 yard ke sudut jauh gawang. Gol itu menjadi tendangan terakhirnya untuk Bournemouth, sekaligus memutus rentetan hasil buruk.

Setelah gol Semenyo, Bournemouth tidak kalah lagi sepanjang musim. Total 18 pertandingan tanpa kekalahan, termasuk kemenangan atas Liverpool di kandang serta Arsenal dan Newcastle di tandang. Tiket Europa League dipastikan pada laga kedua terakhir melawan Manchester City, meski Erling Haaland menyamakan kedudukan di menit 95.

Kutipan Lewis Cook dan Steve Fletcher

"Momen itu luar biasa," kata bek Bournemouth, James Hill, kepada FourFourTwo. "Anda tidak bisa menulis skenario yang lebih baik untuknya mencetak gol seperti itu. Itu sangat melegakan karena kami sudah lama tidak menang."

Wakil kapten Lewis Cook, yang bergabung pada 2016, menegaskan ambisi klub telah berubah. Menurutnya, Bournemouth kini tidak lagi sekadar bertahan di Premier League.

"Sebelumnya, saya dan pemain senior selalu bilang target kami adalah bertahan di liga," ujar Cook. "Tapi klub ini menjaga identitasnya dengan merekrut orang dan pemain yang tepat. Itu membantu kami naik di klasemen dan berkembang."

Steve Fletcher, pemegang rekor penampilan terbanyak Bournemouth yang kini menjadi duta klub, menyebut kesatuan seluruh departemen sebagai kunci. "Tidak peduli seberapa besar atau kecil departemen Anda, semua orang merasa punya peran penting," katanya.

Tantangan Baru di Bawah Marco Rose

Andoni Iraola, arsitek kualifikasi Eropa, telah hengkang ke Liverpool. Posisinya digantikan Marco Rose, mantan pelatih Borussia Dortmund. Bek Marcos Senesi juga pindah ke Tottenham pada musim panas ini.

Bournemouth akan memainkan delapan laga fase liga Europa League hingga akhir Januari, dengan empat pertandingan kandang di Vitality Stadium. Jadwal dua laga per pekan menjadi tantangan baru bagi skuad yang belum terbiasa bermain di kompetisi Eropa.

"Kami tidak perlu khawatir soal jadwal padat," kata Hill. "Kami harus menikmati setiap momen, kegembiraan bermain di Eropa dan menjalani laga-laga itu adalah masalah yang indah."

Fletcher, yang telah bersama klub sejak 1992, mengaku akan menitikkan air mata saat lagu kebangsaan berkumandang di laga Eropa pertama. "Secara pribadi, saya mungkin akan menangis dan berusaha menangkap momen itu sebaik mungkin," ujarnya.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top