Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan empat kalurahan sebagai proyek percontohan Jam Belajar Masyarakat (JBM), yakni Tahunan, Sorosutan, Tegalrejo, dan Bumijo. Program yang berjalan setiap Senin hingga Kamis pukul 19.30–20.30 WIB mulai September ini menempatkan dua guru SD di tiap wilayah untuk mengondisikan anak-anak belajar, bukan bermain gawai. Di Kelurahan Tahunan, kegiatan tahap awal tercatat diikuti 94 anak.
YOGYAKARTA — Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta merekrut guru sekolah dasar untuk ditempatkan di empat kalurahan pilot project JBM. Masing-masing wilayah mendapat dua guru yang bertugas mengondisikan kegiatan belajar anak di kantor kelurahan, balai RW, dan balai RT.
Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat dan PAUD Disdikpora Yogyakarta Siti Hidayati menyebut program ini merujuk pada Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 53 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan JBM.
"Di empat kelurahan itu kami mencoba untuk 'pilot project' JBM. Kami merekrut guru-guru sekolah dasar (SD) dan kami tempatkan di empat wilayah itu masing-masing dua," kata Siti Hidayati di Yogyakarta, Sabtu.
JBM digelar setiap Senin sampai Kamis pukul 19.30–20.30 WIB. Sasaran utamanya anak usia sekolah dasar di empat kalurahan tersebut.
Menurut Siti, tujuan kegiatan ini membangun budaya belajar di tengah masyarakat. Pada jam tersebut, anak-anak diarahkan untuk belajar dan tidak bermain, terutama handphone.
"JBM diadakan setiap Senin sampai Kamis dari pukul 19.30 sampai dengan 20.30 WIB mulai September ini. Jadi, kita membangun budaya belajar untuk anak-anak," ujarnya.
Meski hanya berlangsung satu jam, respons warga di empat kelurahan dinilai tinggi. Di Kelurahan Tahunan, kegiatan tahap awal diikuti 94 anak.
Menurut Siti, antusiasme itu jadi modal penting untuk memperluas gerakan ke wilayah lain. Tahap berikutnya menyasar empat kelurahan lain pada 2027.
"Pada tahap awal kegiatan menghidupkan kembali JBM menyasar anak-anak usia sekolah dasar di empat kelurahan, kemudian secara bertahap diperluas empat kelurahan lain pada 2027," katanya.
Di luar empat kalurahan pilot project, warga RW 6 Kelurahan Purbayan telah membentuk dan mengukuhkan pengurus Kelompok Kerja (Pokja) JBM pada Jumat (11/9). Inisiasi itu muncul dari masyarakat sendiri untuk menggiatkan kembali budaya belajar anak-anak.
Disdikpora berharap wilayah lain di Yogyakarta menempuh langkah serupa. Menurut Siti, gerakan belajar anak adalah tanggung jawab orang tua dan masyarakat, bukan hanya sekolah.
"Ini membuat Yogyakarta menjadi kota pelajar dan bermutu pendidikan dengan adanya kesadaran masyarakat menanamkan budaya belajar kepada anak-anak. Kami mensupport sekali JBM dihidupkan kembali dengan inisiasi dari masyarakat," katanya.