DI YOGYAKARTA — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan capaian tersebut dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast yang digelar Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Jumat (10/9/2026). Angka Rp73,56 triliun itu menjadi rekor baru investasi pariwisata nasional.
Meski begitu, sebarannya belum merata. Hampir delapan dari sepuluh rupiah investasi pariwisata masih mengalir ke Jakarta dan Bali. Dominasi hotel dan restoran sebagai objek investasi membuat sektor penunjang lain, seperti infrastruktur aksesibilitas, belum tergarap optimal.
Mengapa Investasi Perlu Digeser dari Jakarta dan Bali
Pemerintah menilai ruang perluasan investasi masih terbuka lebar, baik dari sisi wilayah maupun ragam usaha. Karena itu, Kementerian Pariwisata aktif mengundang investor asing dan mitra internasional untuk mengarahkan dana ke 13 Destinasi Prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.
Fokus investasi diarahkan ke sektor yang lebih beragam, terutama infrastruktur pendukung aksesibilitas seperti marina kapal pesiar, serta pembangunan daya tarik wisata baru. Langkah ini diharapkan membentuk ekosistem pariwisata yang lebih kokoh dan membuka peluang ekonomi bagi daerah.
"Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas kemudahan, mulai dari pengurangan pajak penghasilan (tax allowance), insentif bagi industri padat karya, hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht," kata Menpar Widiyanti.
Danau Toba hingga Lombok Jadi Bukti Pergerakan Wisatawan
Pergeseran pola perjalanan wisatawan ikut membuka peluang pemerataan. Sejumlah destinasi di luar Jawa dan Bali mencatat lonjakan kunjungan pada awal 2026. Danau Toba tumbuh lebih dari 106 persen, sementara Lombok–Gili Tramena naik 72,1 persen.
Labuan Bajo juga terus menunjukkan pertumbuhan dan dinilai prospektif untuk pengembangan investasi. Menpar memastikan kawasan wisata utama tersebut aman dan siap menerima pengunjung di tengah upaya pemulihan pascadampak bencana di wilayah Flores.
Kinerja ekonomi pariwisata nasional menopang tren tersebut. Kontribusi produk domestik bruto (PDB) pariwisata naik dari Rp729,1 triliun pada 2022 menjadi Rp1,14 kuadriliun pada 2025, dengan target Rp1,19 kuadriliun pada akhir 2026.
"Pertumbuhan positif ini menjadi modal besar bagi Kementerian Pariwisata bersama mitra strategis, termasuk KADIN Indonesia dan mitra internasional, untuk terus bersinergi memperkuat pariwisata sebagai salah satu kekuatan yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional, membuka peluang investasi, serta menggerakkan usaha dan lapangan kerja di berbagai daerah," ujar Menpar Widiyanti.
Sumatra Barat Tawarkan Tiga Klaster Investasi
Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi yang hadir dalam forum itu memaparkan potensi tanah Minang. Sepanjang Januari–Juli 2026, kunjungan wisatawan nusantara di Sumatra Barat mencapai 14,9 juta orang. Sektor akomodasi, makanan, dan minuman tumbuh 17,57 persen.
Pemerintah provinsi telah menyiapkan tiga klaster peluang investasi. Mentawai untuk wisata surfing kelas dunia, Padang dan Mandeh untuk wisata bahari dan MICE, serta Sawahlunto untuk wisata berbasis sejarah dan budaya.
"Kami mengajak para investor dan industri untuk datang dan melihat langsung potensi pengembangan pariwisata di Sumatra Barat termasuk hadir pada Indian Ocean High-Level Forum pada tahun depan sebagai bagian dari jejaring strategis kerja sama kawasan Samudra Hindia," ujar Gubernur Mahyeldi.
Konektivitas Singapura dan Peran KADIN
Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng, menilai forum ini dapat mendorong kerja sama tidak hanya antar pemerintah (G to G), tetapi juga antar pelaku swasta kedua negara. Menurutnya, Singapura dan Indonesia punya rekam jejak panjang dalam memperkuat sektor pariwisata.
Ia mencontohkan Singapore Airlines yang telah menghubungkan 18 titik di Indonesia dari Singapura. "Peningkatan konektivitas ini telah mendatangkan lalu lintas wisatawan. Semuanya dimulai dari skala kecil, sebelum akhirnya berkembang," kata Dubes Kwok Fook Seng.
Keberadaan KADIN dinilai membuka jalan bagi pelaku usaha berpengalaman untuk terlibat. Sinergi pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci agar target PDB pariwisata Rp1,19 kuadriliun pada akhir 2026 dapat tercapai.