YOGYAKARTA — Stela (nama samaran), mahasiswa salah satu kampus swasta di Jogja, sempat diingatkan temannya sebelum mencari kos. Ia diminta tidak menjawab jujur jika pemilik kos menanyakan daerah asalnya. "Kalau ditanya asalnya dari mana oleh pemilik kos, baiknya jangan jawab dari daerah Indonesia timur," kata Stela menirukan pesan temannya.
Peringatan itu bukan tanpa alasan. Stela dan sejumlah mahasiswa lain dari Indonesia Timur mengaku kerap mendapat penolakan saat mencari tempat tinggal, meski kamar kosong terlihat tersedia.
Tahun 2023, Stela diterima di salah satu kampus swasta di Jogja. Ia mencari informasi kos lewat internet dan menemukan tempat yang cocok: harga sesuai kantong, lokasi dekat kampus, fasilitas lengkap.
Saat menghubungi pemilik kos, Stela diberi tahu kamar masih direnovasi dan baru selesai seminggu kemudian. Waktunya pas dengan kedatangan Stela di Jogja. Namun ketika pemilik kos menanyakan asal daerahnya dan tahu Stela berasal dari provinsi di Indonesia Timur, respons berubah.
"Katanya, kos itu sudah tidak beroperasi lagi," ujar Stela. "Awalnya bilang direnovasi, selang beberapa menit bilangnya gak beroperasi."
Pengalaman serupa dialami Angel (bukan nama asli). Tahun 2023, ia tiba di Jogja bersama kakak perempuannya dan langsung mencari kos di kawasan Seturan. Hari sudah gelap, keduanya menenteng tas dan koper.
Di salah satu pagar kos tertulis kamar masih tersedia. Dari teras, Angel melihat sendiri satu kamar kosong. Ia mengetuk pintu dan bertanya.
"Ibunya tuh bilang udah penuh kosnya," kata Angel. Ia menduga penolakan itu muncul setelah pemilik kos melihat perawakan fisiknya yang mengindikasikan mahasiswa asal Indonesia Timur.
Praduga Angel cukup beralasan. Setahun sebelumnya, terjadi konflik serius yang melibatkan mahasiswa dari daerah timur di Barbarsari. Angel dan Stela berangkat ke Jogja pada 2023, baru setahun selepas kejadian itu.
Ketika akhirnya Stela mendapat kos yang menerimanya, pemilik kos beberapa kali menyinggung peristiwa Barbarsari. Stela tidak mempermasalahkan obrolan itu. Ia menilai pemilik kos berusaha berkomunikasi secara terbuka.
Setelah beberapa tahun menetap, Stela justru mendapat predikat anak kos yang baik. Ia memang jarang keluar kos. "Aku berusaha membuktikan kalau sebenarnya orang timur tuh gak gitu, itu hanya oknum mahasiswa," jelasnya.
Pemilik kos yang ditempati Angel menerapkan cara serupa. Aturan disampaikan secara lisan, termasuk larangan menimbulkan masalah. Pemilik kos juga mewajibkan penyerahan data diri sebagai bentuk komitmen.
"Jadi kita dikasih persyaratan untuk kasih fotokopi KTP, setelah itu baru diperbolehkan untuk tinggal di sana," kata Angel.
Stela memahami kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Ia mengakui memang ada mahasiswa asal timur yang membuat masalah. Namun ia menyayangkan cara pemilik kos menolaknya lewat kebohongan.
"Yang membuat masalah kan oknum mahasiswa timur, tapi kayak aduh kenapa disangkut-pautkan ke kami?" keluh Stela.
Angel menilai pemilik kos menolak mahasiswa dari timur karena takut pada stigma yang sudah telanjur buruk. "Mereka memang menolak untuk teman-teman dari timur karena mungkin takut juga ya karena stigmanya buruk," ujarnya.
Kasus yang menimpa Stela dan Angel mencerminkan bagaimana label ditempelkan erat pada ciri fisik tertentu. Keduanya juga perempuan, yang di masyarakat dianggap harus lebih lembut dan tidak sering bepergian. Dua lapis prasangka itu bertemu dalam satu persoalan sederhana: mencari tempat tinggal.