YOGYAKARTA — Maxi-single "Somewhere Between" memuat dua komposisi, yakni "Kill Your Expectation" dan "To Live Again, More Alive…". Keduanya dibangun dari distorsi gitar, tekstur noise pop, dan atmosfer shoegaze yang merujuk pada musik alternatif era 1990-an.
Haszh menempatkan "Kill Your Expectation" sebagai lagu utama. Lagu itu dibuka dengan feedback gitar yang kasar, lalu disusul bassline tebal dan permainan instrumen yang membentuk dinding suara.
Vokalis sekaligus gitaris Haszh, Gusti Mas Amrizal Ramadhan, menyebut sejumlah nama yang membentuk selera musik mereka. "Kami mendengar band seperti Swervedriver, Ride, Hum, Drop Nineteens, Whirr, Nothing, atau Narrow Head," ujar Amrizal.
Karakter suara "Kill Your Expectation" disebut mengingatkan pada band shoegaze lawas seperti The Telescopes, dengan sentuhan psikedelik yang menyusup di antara lapisan distorsinya. Lagu kedua, "To Live Again, More Alive…", mempertahankan karakter distorsi yang sama dan berfungsi sebagai pelengkap dalam paket dua komposisi ini.
Materi "Somewhere Between" sudah disiapkan sejak 2021, saat para personel masih rutin latihan dan mengulik materi di studio. Sebagian bagian musik muncul sebagai eksperimen spontan di sela istirahat latihan, tanpa rencana menjadi rilisan resmi.
Amrizal mengenang Roby, mantan pemain bass Haszh, sempat menyumbang banyak ide bassline untuk lagu-lagu tersebut. Materi itu sempat terhenti sebelum Amrizal memutuskan merekam kedua lagu sekitar 2024.
Haszh dibentuk pada 2017 oleh Amrizal dan drummer Rifky Setiawan Irba sebagai proyek semasa kuliah. Lingkaran personel bertambah lewat pertemuan dengan musisi dari luar Jawa. Roby sempat mengisi posisi bass sebelum pulang kampung, lalu Ardian Cahyo mengambil peran itu, sementara Iksan Wibisono bergabung sebagai pemain synthesizer.
Keputusan Amrizal membentuk Haszh tidak lepas dari sejumlah band yang memengaruhinya. Ia menyebut Barefood sebagai pemicu awal keinginan bermain musik, diikuti Collapse melalui EP "Grief" dan Annie Hall dari skena lokal Yogyakarta.
Haszh bergerak di tengah lanskap shoegaze Yogyakarta yang menyimpan sejumlah nama perawat distorsi dan lapisan suara tebal. Kapsul, Annie Hall, dan Winona Dryver pernah mengisi kompilasi shoegaze lokal rilisan Anoa Records, sementara Sunlotus dan Anggisluka turut mewarnai perjalanan musik independen kota ini.
Di tengah kesibukan masing-masing personel, Haszh masih mempertahankan aktivitas sebagai band meski tidak terlalu sering tampil. Mereka juga menyimpan materi lain yang belum dirilis.
Dalam waktu dekat, Haszh menyiapkan pertunjukan untuk merayakan perilisan "Somewhere Between", dengan kemungkinan menggelar tur bersama band lain. "Kami lakoni apa yang bisa dilakukan," kata Amrizal menggambarkan langkah Haszh ke depan.