DI YOGYAKARTA — Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, meminta pemain dan ofisial tim menjauh dari wasit ketika proses pengecekan VAR berlangsung. Menurutnya, kerumunan di sekitar pengadil lapangan menghambat komunikasi dengan ruang VAR dan merusak tempo pertandingan.
Imbauan Yoshimi Ogawa disampaikan di tengah masih seringnya insiden pemain dan pelatih mengerumuni wasit saat insiden krusial ditinjau lewat Video Assistant Referee. Pria asal Jepang itu menilai tekanan bertubi-tubi dari bangku cadangan maupun di lapangan justru menyulitkan wasit mengambil keputusan tepat.
VAR sendiri mulai diterapkan di kompetisi Indonesia sejak musim 2023/2024. Sejak saat itu, momen wasit berjalan ke tepi lapangan untuk menonton ulang insiden kerap diwarnai protes berlebihan dari kedua kubu.
Wasit Butuh Ruang Berkomunikasi dengan Ruang VAR
Ogawa menjelaskan, pada saat pengecekan berlangsung, wasit harus bisa berbicara jernih dengan petugas di ruang VAR. Gangguan dari pemain yang mendekat membuat proses diskusi itu terhambat.
"Terkadang kami perlu meminta ofisial tim atau pemain untuk menjauh dari wasit. Misalnya saat VAR sedang memeriksa, karena wasit perlu berkomunikasi. Namun, masih banyak pemain yang tetap mendekat," kata Yoshimi Ogawa, Sabtu (24/10/2026).
Kerumunan di Sekitar Wasit Bikin Ritme Permainan Berantakan
Tekanan emosional dari kerumunan pemain dan ofisial disebut Ogawa ikut memicu suasana tidak kondusif di stadion. Efek lanjutannya, emosi suporter bisa tersulut dan waktu pertandingan banyak terbuang percuma.
"Hal ini benar-benar membuat tempo pertandingan menjadi tidak bagus," tegas Ogawa.
Menurutnya, sepak bola Indonesia perlu belajar dari liga-liga yang sudah lebih matang menerapkan VAR. Di sana, hanya kapten tim yang diberi ruang terbatas untuk mendekati wasit, sementara pemain lain diminta menjauh.
Wasit Punya Kewenangan Penuh Keluarkan Kartu
Ogawa mengingatkan, wasit sebenarnya dibekali kewenangan penuh untuk menindak siapa saja yang mengganggu kinerjanya. Sanksi disiplin berupa kartu kuning hingga kartu merah siap dijatuhkan bila batas toleransi dilanggar.
"Sebenarnya, terkadang wasit perlu menggunakan kewenangannya. Artinya memberikan kartu kuning atau kartu merah," ujar Ogawa.
Meski begitu, Komite Wasit PSSI tetap mengedepankan pendekatan preventif. Peringatan lewat manajemen klub dan imbauan kepada seluruh tim untuk mengontrol emosi menjadi langkah utama demi menjaga kualitas kompetisi domestik.
Bagi Ogawa, disiplin di sekitar wasit bukan sekadar soal menghormati pengadil. Keputusan yang tenang dan komunikasi yang lancar antara wasit dan ruang VAR akan menentukan kualitas pertandingan yang ditonton jutaan orang setiap pekannya.