JOGJA — Capaian ini melanjutkan rentetan prestasi film Indonesia di kancah Asia. Sebelumnya, proyek RBMT sudah menarik perhatian pelaku industri internasional saat diperkenalkan dalam Asian Content and Film Market di Busan International Film Festival tahun lalu.
Film yang disutradarai ismailBASBETH ini bersaing di kategori paling prestisius SIFF. Ketujuh nominasi tersebut meliputi Best Feature, Best Director, Best Actor, Best Actress, Best Screenplay, Best Cinematographer, dan Best Outstanding Artistic.
CEO dan produser Matta Cinema Production (MCP), Nugroho Dewanto, menyebut pencapaian ini sebagai kebanggaan sekaligus kehormatan. "Bisa mewakili Indonesia dalam ajang festival film kelas dunia seperti SIFF," ujarnya.
RBMT mengangkat pergulatan identitas dan trauma seorang tokoh utama dari komunitas Tionghoa Indonesia. Cerita berpusat pada Encek, seorang pria tua yang mengalami tekanan psikologis dan politik karena identitas etnisnya.
"Kami ingin menyentuh dan mengajak penonton agar mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup Encek, dalam sebuah cerita tentang trauma generasi yang berhasil diputus oleh seseorang yang berani mengubah nasib diri dan keluarganya," kata sutradara ismailBASBETH.
Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Wisnu Suryaning Adji. Pendekatan sinematik yang kuat digunakan untuk menerjemahkan cerita ke medium layar lebar.
Dari sisi pemeran, RBMT menghadirkan nama-nama seperti Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Soleiman. Mereka dipadukan dengan talenta baru yang menjalani debut, termasuk Jessy Davita dan Nicholas Anderson.
Kejutan lain datang dari keterlibatan pengamat politik Rocky Gerung yang tampil di depan kamera sebagai bagian dari jajaran pemain.
Setelah menyelesaikan rangkaian kompetisi di SIFF 2026, film ini dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke pasar domestik. Manajemen produksi memastikan RBMT akan mulai tayang di bioskop Indonesia pada akhir 2026.
Keikutsertaan di SIFF menjadi momentum penting bagi Matta Cinema Production untuk kembali menunjukkan eksistensinya di industri film nasional dan internasional. Ajang ini membuka peluang lebih luas bagi karya sineas Jogja untuk mendapatkan perhatian publik global.