YOGYAKARTA — Menjelang puncak peringatan malam 1 Sura, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tak hanya menggelar Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng. Tahun ini, Kawedanan Kridhamardawa turut mangayubagya dengan menghadirkan pementasan wayang kulit gedhog yang sudah jarang dipentaskan di wilayah DIY.
Wayang gedhog merupakan jenis pertunjukan wayang kulit yang membedakan diri dari wayang purwa. Jika wayang purwa bersumber pada epos Mahabarata atau Ramayana, wayang gedhog mengangkat cerita Panji, kisah klasik dari masa Kerajaan Jenggala dan Kediri. Koleksi wayang ini termasuk aset langka milik Keraton Jogja.
Dalang MB. Cermo Gupito, yang juga Abdi Dalem Dalang Kawedanan Kridhamardawa, menjelaskan bahwa pementasan ini sengaja digelar untuk mengenalkan dan melestarikan warisan budaya tersebut. "Melalui rangkaian acara ini, masyarakat dapat memaknai pementasan wayang dalam rangka mencari 'sangu' untuk introspeksi diri," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).
Pementasan mengambil lakon 'Jaya Berdangga', yang mengisahkan perjuangan Raden Panji menyamar demi memenuhi syarat permintaan istrinya yang sedang mengandung, Dewi Sekartaji. Kisah ini sarat dengan godaan dan rintangan dari para senopati kerajaan seberang yang menghalangi upaya Raden Panji hingga berani meminang Dewi Sekartaji.
Cerita berakhir dengan kegigihan Raden Panji yang berhasil memenuhi syarat tersebut, bersamaan dengan lahirnya bayi laki-laki. "Cariyos Panji Lampahan Jaya Berdangga dipilih karena bobot dan isi cerita tersebut sangat kompleks dan erat dengan realitas kehidupan masyarakat Jawa," kata Cermo Gupito.
Ia menambahkan, lakon ini mengajarkan perjuangan hidup, kesetiaan terhadap pasangan, mengedukasi proses produksi gamelan, serta menghadirkan konsep kesuburan Tanah Jawa yang termuat dalam figur Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji atau Candra Kirana.
Pementasan berlangsung selama sekitar 4 jam, mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB. Lokasinya di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepat di belakang Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad, dekat Alun-Alun Kidul.
Acara ini terbuka untuk umum dan gratis tanpa perlu reservasi. Masyarakat hanya diminta hadir dengan busana bebas, rapi, dan sopan. Bagi yang tidak bisa datang langsung, pertunjukan juga disiarkan melalui kanal YouTube Kraton Jogja.
Setelah pementasan wayang selesai pukul 23.00 WIB, masyarakat masih bisa mengikuti iring-iringan Abdi Dalem dari Kagungan Dalem Kamandungan Kidul menuju Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti. "Jadi masyarakat yang nanti kemudian mau turut bergabung di Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng tentu masih bisa sekali lanjut mengikuti kegiatan tersebut," pungkas Cermo Gupito.