Pencarian

Klenteng Tay Kak Sie, Ikon Pecinan Semarang yang Berdiri Sejak 1746 dan Jadi Cikal Bakal Revitalisasi Kawasan

Selasa, 18 Agustus 2026 • 00:24:01 WIB
Klenteng Tay Kak Sie, Ikon Pecinan Semarang yang Berdiri Sejak 1746 dan Jadi Cikal Bakal Revitalisasi Kawasan
Klenteng Tay Kak Sie di Pecinan Semarang berdiri sejak 1746 dan menjadi saksi sejarah akulturasi budaya selama hampir tiga abad.

DI YOGYAKARTA — Klenteng Tay Kak Sie bukan sekadar tempat ibadah. Di balik dinding dan ukiran kayunya, bangunan ini menjadi saksi bisu denyut perdagangan dan akulturasi budaya di Semarang selama hampir tiga abad. Berdiri di kawasan Pecinan, klenteng ini justru mengawali sejarahnya dengan nama Kwan Im Ting, didedikasikan untuk memuja Dewi Kwan Im, sosok yang melambangkan welas asih.

Nama Tay Kak Sie sendiri baru melekat kemudian. Gelar kehormatan yang berarti "Kuil Kesadaran Agung" itu merupakan anugerah langsung dari Kaisar Dao Guang pada periode 1821–1850. Penamaan ini menegaskan posisi klenteng tersebut bukan hanya sebagai rumah ibadah, melainkan juga simbol status dan pengakuan atas peran komunitas Tionghoa di kota pelabuhan tersebut.

29 Altar dan Filosofi Bangunan yang Menolak Bala

Keistimewaan Tay Kak Sie langsung terlihat dari skala dan kelengkapannya. Klenteng ini memiliki 29 altar pemujaan untuk berbagai dewa-dewi, jumlah yang sangat jauh melampaui klenteng lain di Semarang yang rata-rata hanya memiliki lima patung. Setiap altar menyimpan makna dan menjadi tujuan doa bagi umat yang datang.

Lokasi bangunan di Gang Lombok No. 62 pun bukan kebetulan. Dalam filosofi feng shui, posisi yang berdekatan dengan sungai—yang dulunya merupakan jalur perdagangan vital—memberi nilai strategis. Keunikan lain ada pada bentuk bangunan yang memiliki ciri "tusuk sate", sebuah desain yang dipercaya masyarakat sebagai simbol penolak bala.

Detail artistik bangunan ini juga patut menjadi perhatian. Di bagian atap, terlihat sepasang naga atau Liong yang sedang memperebutkan mutiara alam semesta, melambangkan keadilan dan kekuatan. Sementara itu, hiasan Burung Hong atau Phoenix merepresentasikan ketulusan dan kesetiaan. Interiornya didominasi ukiran kayu rumit dengan sistem penyangga segitiga atau dou-gong, teknik konstruksi yang mengingatkan pada gaya bangunan abad ke-19.

Satu elemen yang paling menarik perhatian adalah Sumur Langit, lubang terbuka di tengah bangunan yang berfungsi sebagai altar utama untuk bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di depan klenteng, pengunjung juga akan disambut replika kapal Laksamana Zheng He (Cheng Ho), pengingat akan sejarah maritim dan penyebaran pengaruh Tionghoa di Nusantara.

Revitalisasi Pecinan dan Daya Tarik Kuliner

Keberadaan klenteng ini kini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota Semarang. Tay Kak Sie ditetapkan sebagai titik awal atau embrio revitalisasi kawasan Pecinan. Program yang digulirkan bertujuan membenahi infrastruktur di sekitar klenteng tanpa menghilangkan nilai sejarah yang sudah mengakar kuat.

Bagi wisatawan, berkunjung ke tempat ini terbilang sangat terjangkau. Tiket masuknya hanya Rp 3.000 dan klenteng buka selama 24 jam setiap hari. Setelah berkeliling menikmati arsitektur dan suasana religius, pengunjung bisa langsung mencicipi kuliner legendaris Lumpia Gang Lombok yang lokasinya tepat di dekat pintu masuk.

Puncak keramaian biasanya terjadi saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Berbagai upacara ritual berlangsung khidmat, mulai dari pembersihan patung atau rupang hingga sembahyang menyambut tahun baru. Pada momen-momen tersebut, klenteng ini menjadi pusat kegiatan budaya yang menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Sebagai klenteng terbesar dan terlengkap di Semarang, Tay Kak Sie bertahan sebagai ruang publik yang merawat toleransi. Di tengah modernitas kota, bangunan tua ini tetap berdiri tegak—menjadi pengingat bahwa spiritualitas dan sejarah bisa hidup berdampingan dengan denyut ekonomi kawasan.

Follow jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: harapanrakyat.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks