SLEMAN — Misteri titik api yang muncul di sebuah rumah warga di Padukuhan Sayegan, Sleman, akhirnya terungkap. Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM memastikan bahwa penyebabnya adalah gas hidrogen yang berasal dari residu kebakaran limbah pemotongan ayam.
Kesimpulan itu disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC), Minggu (13/6). Tim yang beranggotakan 18 peneliti lintas disiplin itu memaparkan hasil observasi dan pengambilan sampel terakhir yang dilakukan sehari sebelumnya.
Ketua tim, Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, menjelaskan bahwa fokus utama penyelidikan adalah mengidentifikasi kemungkinan fenomena alam sebagai penyebab api. Tim melakukan pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah permukaan tanah dengan Georadar dan Geolistrik, serta pengukuran kandungan gas menggunakan portable-gas detector.
“Sesuai dengan dugaan awal, tim mendeteksi adanya gas hidrogen (H2) pada titik-titik munculnya api yang diduga berasosiasi dengan gas Pyrophoric yang berasal dari limbah potongan ayam,” kata Alva dalam keterangan yang dikirim Senin (15/6).
Untuk memastikan dugaan itu, tim memeriksa residu kebakaran di permukaan dinding keramik, kayu, dan tripleks menggunakan cahaya inframerah (FITR). Hasilnya, ditemukan kandungan PVC (Polivinil Klorida) yang tidak umum dijumpai di permukaan tersebut. “Saat PVC terbakar akan muncul gas Hidrogen Klorida. Detektor membaca gas tersebut sebagai gas hidrogen,” terang Alva.
Tim PKPE UGM memulai observasi pertama pada 30 Mei lalu. Hasil analisis spasial dari ketinggian hingga radius 200 meter menggunakan drone dan sensor inframerah tidak menunjukkan adanya anomali termal. Retakan yang ditemukan di lokasi juga diinterpretasi tidak mengandung gas alam.
Pengukuran medan listrik dan medan magnetik di lokasi kejadian masih dalam level normal. Anggota tim, Dr. Sarju Winardi, menegaskan bahwa tim tidak menemukan bukti kuat api muncul secara alami. “Seiring berjalannya waktu, tim tidak cukup menemukan bukti kuat bahwa api muncul secara alami dan dapat menyala karena pemantik elektromagnetik maupun menyala sendiri akibat Spontaneous Ignition,” jelas Sarju.
Dengan selesainya penelitian ini, tim PKPE UGM menyerahkan sepenuhnya tindak lanjut penanganan lokasi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman. Tim pakar resmi menutup observasi titik kemunculan api di rumah warga di Sayegan tersebut.
Dalam konferensi pers, tim juga didampingi oleh sejumlah pakar, yakni Prof. Dr. Eng. Ir. Deendarlianto, Prof. Ir. Leni Sophia Heliani, serta Dr. Saptono Budi Samodra, S.T., M.Sc.