YOGYAKARTA — Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, Dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp. G.H (K), menjelaskan bahwa gumoh pada bayi berbeda dengan muntah. Gumoh adalah aliran balik susu dari lambung ke mulut yang terjadi secara pasif, tanpa paksa atau kontraksi otot perut yang kuat.
“Gumoh pada bayi atau regurgitasi pada bayi ini ternyata mayoritas atau sebagian besar itu adalah merupakan suatu proses yang normal terjadi,” kata Sri dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.
Menurut Sri, ada tiga faktor utama yang membuat bayi rentan gumoh. Pertama, klep atau sfingter antara kerongkongan dan lambung belum sempurna sehingga tidak bisa menahan isi lambung agar tidak naik kembali. Kedua, asupan bayi masih berupa cairan (ASI atau susu formula) yang sifatnya mudah berpindah tempat. Ketiga, kapasitas lambung bayi masih sangat kecil.
“Cairan atau liquid itu yang nanti sifatnya mudah berpindah,” ujarnya.
Jika jumlah susu yang masuk berlebihan, cairan akan mudah meluap kembali ke esofagus. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan bayi yang mudah tertidur setelah menyusu.
IDAI menegaskan bahwa gumoh tidak berkaitan dengan kualitas ASI yang diberikan ibu, melainkan jumlah atau kuantitasnya. Orang tua disarankan tidak memberikan ASI secara berlebihan.
“Menangis tidak bisa selalu diartikan bayi sedang kelaparan. Bisa juga karena merasa tidak nyaman atau membutuhkan sesuatu,” kata Sri.
Ia mendorong orang tua untuk bijak belajar memahami kebutuhan bayi, bukan sekadar merespons tangisan dengan menyusui.
Meski mayoritas normal, ada kondisi gumoh yang perlu diwaspadai karena bisa mengarah pada Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Sri menyebutkan sejumlah tanda bahaya yang harus segera dikonsultasikan ke dokter:
Jika orang tua menemukan tanda-tanda tersebut, IDAI meminta agar bayi segera dibawa ke dokter untuk evaluasi dan penanganan lebih lanjut. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi seperti gangguan pertumbuhan atau peradangan pada kerongkongan.