YOGYAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah 45 poin pada Jumat pagi, berada di level Rp17.988 per dolar AS. Angka ini turun 0,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang tercatat di Rp17.943 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih membebani mata uang negara berkembang. Pelaku pasar di Yogyakarta, khususnya pengusaha UMKM yang bergantung pada bahan baku impor, mulai menghitung ulang biaya produksi mereka.
Melemahnya rupiah membuat biaya impor barang seperti gandum, kedelai, hingga suku cadang mesin ikut membengkak. Di Yogyakarta, sektor kuliner dan percetakan disebut paling rentan terdampak karena mayoritas bahan bakunya masih didatangkan dari luar negeri.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo, Sugeng Riyadi, menyebut harga barang elektronik dan peralatan rumah tangga impor sudah mulai menunjukkan kenaikan sejak pekan lalu. “Kami khawatir daya beli warga kota makin turun kalau rupiah terus tertekan,” ujarnya.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY hingga berita ini diturunkan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait langkah stabilisasi nilai tukar. Namun, pengamat ekonomi dari UGM, Fadhil Hasan, menilai intervensi pasar valas oleh Bank Indonesia masih menjadi andalan untuk menahan laju pelemahan.
“Yang perlu diwaspadai bukan hanya nilai tukarnya, tapi efek domino ke harga-harga kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional,” kata Fadhil. Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut hingga akhir bulan ini.
Masyarakat diimbau mencermati harga barang kebutuhan pokok di pasar tradisional dan ritel modern. Jika tren pelemahan berlanjut, kenaikan harga minyak goreng kemasan, tepung terigu, dan produk elektronik bisa terjadi dalam dua pekan ke depan.
Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri belum mengumumkan rencana operasi pasar untuk menekan harga. Sejumlah distributor di kawasan Jalan Magelang dan Ringroad Utara sudah mulai menahan stok barang impor sembari menunggu kepastian kurs.