JAKARTA — Posisi tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp17.907 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren fluktuasi nilai tukar yang masih dibayangi sentimen global.
Tekanan terhadap rupiah pagi ini dipicu oleh menguatnya indeks dolar AS di pasar internasional. Para pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang diperkirakan tetap tinggi lebih lama.
Di sisi lain, data ekonomi domestik yang belum menunjukkan sinyal pemulihan signifikan juga turut membebani pergerakan rupiah. Kondisi ini membuat investor cenderung wait and see dan memilih untuk memegang aset dalam denominasi dolar.
Pelemahan rupiah secara langsung berdampak pada harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga barang konsumsi. Bagi pelaku UMKM di Yogyakarta yang mengandalkan bahan baku impor, tekanan biaya produksi dipastikan meningkat.
Di sektor pariwisata, yang menjadi tulang punggung ekonomi DIY, pelemahan rupiah justru bisa menjadi angin segar. Nilai tukar yang lebih lemah membuat biaya liburan di Indonesia lebih murah bagi wisatawan mancanegara, berpotensi meningkatkan kunjungan ke destinasi seperti Malioboro, Candi Prambanan, dan Pantai Parangtritis.
Analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.900 hingga Rp17.980 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan. Pasar menanti rilis data inflasi Amerika Serikat pekan ini yang bisa menjadi katalis pergerakan selanjutnya.
Bank Indonesia (BI) dipantau terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak mengalami pelemahan yang terlalu dalam. Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi dinilai sebagai langkah antisipatif untuk menahan tekanan eksternal.
Berita ini telah tayang di Antara News dengan pewarta M Baqir Idrus Alatas dan Bambang Sutopo Hadi.