BANTUL — Sampah sisa dapur warga Perumahan Pringgading Permai, Kembangputihan, Guwosari, Pajangan, Bantul, kini memiliki nilai ekonomi. Budidaya maggot yang dikelola bersama di Gelanggang Diponegoro, RT 005 Kembangputihan, menjadi solusi pengolahan sampah organik rumah tangga sekaligus sumber pendapatan baru bagi lingkungan.
Ketua RT 005 Kembangputihan, Taufiq Hermawan, menegaskan program ini dijalankan bukan semata-mata mencari keuntungan. Tujuan utamanya adalah menyelesaikan persoalan sampah organik yang dihasilkan rumah tangga di perumahan tersebut.
"Tujuan utama adanya budidaya maggot tidak hanya untuk mencari income saja walaupun maggot itu ada nilai jualnya lebih, tapi tujuan maggot ini kita memang utamanya untuk menyelesaikan sampah organik yang ada di Perumahan Pringgading Permai," kata Taufiq, Kamis (26/8/2026).
Setiap rumah diperkirakan menghasilkan sekitar 500 gram sisa olahan dapur per hari. Jika dikumpulkan selama sepekan, volume sampah organik yang masuk ke enam biopond bisa mencapai 75 hingga 80 kilogram, tergantung produksi sampah masing-masing warga.
Plasma Masayu merupakan bagian dari sistem inti plasma budidaya maggot yang bekerja sama dengan TPS 3R Guwosari. Program ini mendapat pendampingan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) dan Bosper Ceng bersama Kalurahan Guwosari.
Dalam skema ini, warga berperan sejak dari sumber sampah. Sisa pengolahan dapur dipilah dari rumah sebelum dikumpulkan pada pagi, siang, maupun sore hari untuk kemudian digunakan sebagai pakan maggot.
Maggot yang telah tumbuh besar dijual kembali melalui TPS 3R. Namun, hasil penjualan tidak langsung dibagikan sebagai pendapatan pribadi. Uang yang terkumpul dimasukkan ke kas untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
"Maggot yang sudah besar kita jual lagi, kita jual ke TPS lagi untuk hasilnya nanti kita masukkan ke kas dan hasil dari kas itu nanti kita kembalikan lagi ke masyarakat untuk subsidi silang kegiatan yang ada di masyarakat," jelas Taufiq.
Dari sisi nilai jual, maggot hasil budidaya warga mencapai harga sekitar Rp10.000 per kilogram. Dalam satu kali panen, Plasma Masayu mampu menghasilkan sekitar 25 kilogram maggot, atau potensi nilai penjualan sekitar Rp250.000 sebelum memperhitungkan biaya pengelolaan.
Program ini membentuk rantai pengelolaan sampah berbasis masyarakat: warga memilah sampah dari rumah, sisa dapur digunakan sebagai pakan, kemudian maggot yang telah berkembang dijual dan hasilnya dikembalikan untuk mendukung kegiatan warga.
Taufiq menekankan bahwa konsistensi warga dalam memilah sampah menjadi kunci keberlangsungan program. Sampah organik yang dipisahkan sejak dari rumah akan lebih mudah dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai pakan maggot.