JOGJA — Ratusan kafilah dari seluruh kemantren di Kota Yogyakarta ambil bagian dalam ajang seleksi bergengsi ini. Hasto menegaskan bahwa penyelenggaraan STQH bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum untuk membangun ekosistem pembinaan keagamaan yang berkesinambungan di masyarakat.
"Sebetulnya kegiatan-kegiatan seperti ini harus diperkuat dan ditingkatkan. Kalau menurut saya, kegiatan yang mengolah spiritualitas dan religiusitas kita sudah banyak, tetapi peran pemerintah masih kurang," katanya di sela acara, Sabtu (5/9/2026).
Hasto berharap Pemkot Jogja bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jogja dapat mempersiapkan para peserta lebih awal. Pembinaan yang intensif sebelum berlaga di level provinsi maupun nasional dinilai krusial untuk meningkatkan kualitas para qori dan qoriah.
Menurutnya, penguatan pembinaan rohani ini juga harus berbanding lurus dengan dukungan anggaran. Dia membandingkan besarnya alokasi dana untuk pembinaan fisik dan olahraga yang selama ini sudah berjalan.
"Kalau membina fisik saja anggarannya besar, membina rohani harusnya juga tidak kalah besar. Harapan saya ke depan, kalau kemampuan anggaran kita mampu, kita punya kemampuan secara ruang fiskal untuk memperkuat pembinaan," ujarnya.
Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja Ahmad Shidqi menjelaskan, ajang ini juga menjadi etalase produk halal. Sejumlah UMKM yang telah mengantongi sertifikat halal turut memeriahkan kegiatan tersebut untuk membangun ekosistem halal di Kota Pelajar.
"Selain untuk membentuk ekosistem halal yang ada di Kota Jogja, paling tidak ini juga bisa menjadi semacam kampanye produk halal. Ini juga dapat membantu sektor lainnya, seperti pariwisata," jelasnya.
Keberadaan Halal Fest dinilai strategis untuk memberikan jaminan keamanan bagi konsumen, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari. Langkah ini sekaligus menjadi penguat rantai pariwisata berbasis kuliner di Yogyakarta.
Ahmad menambahkan, capaian sertifikasi halal di tingkat DIY telah melampaui target. Sebanyak 23.000 produk halal telah tersertifikasi, melebihi 100 persen dari target yang ditetapkan, sekaligus berkontribusi pada target nasional satu juta produk halal.
Pihaknya berharap dukungan pembiayaan atau subsidi bagi UMKM yang belum memiliki sertifikat halal dapat terus digencarkan. Dengan begitu, semakin banyak pelaku usaha makanan yang tersertifikasi demi menjamin hak konsumen.
"Harapannya makin banyak pelaku usaha, khususnya makanan, bisa tersertifikasi sehingga menjamin hak konsumen," pungkasnya.