Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Bongkar Celah Pertahanan Udara Arab Saudi

Penulis: Galih Prayoga  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:54:00 WIB
Arab Saudi menyelidiki kegagalan sistem pertahanan udara dalam menghadapi serangan Houthi ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

DI YOGYAKARTA — Arab Saudi menyelidiki kegagalan sistem pertahanan udaranya mencegat rentetan rudal dan drone Houthi yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh hingga menimbulkan korban jiwa. Penyelidikan awal menunjukkan Houthi lebih dulu melepas sejumlah drone untuk membuka jalan bagi rudal jelajah dan balistik menembus pertahanan. Insiden ini menyingkap kerentanan yang jarang dibahas dari salah satu pembelanja senjata terbesar dunia.

Arab Saudi menempatkan sistem pertahanan rudal Patriot pasokan Amerika Serikat sebagai tulang punggung perlindungan wilayahnya. Namun rangkaian serangan Houthi ke sejumlah bandara Saudi sejak pekan lalu memperlihatkan bahwa perangkat pencegat tercanggih sekalipun tidak menjamin perlindungan menyeluruh.

Para pejabat yang berbicara anonim menyebut penyelidikan awal mengarah pada satu pola serangan yang dirancang khusus untuk mengelabui radar dan sistem komando. Rudal dan drone Houthi harus menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer sebelum mencapai Riyadh.

Pola Serangan yang Menguras Sistem Pertahanan

Penyelidikan awal menunjukkan kelompok Houthi Yaman pertama-tama menembakkan sejumlah drone untuk membuka jalan bagi campuran rudal jelajah dan rudal balistik agar dapat mencapai Bandara Internasional King Khalid. Kombinasi ini memaksa sistem pertahanan melacak berbagai jenis ancaman secara bersamaan.

Rudal balistik umumnya mengikuti lintasan terbang tinggi sehingga dapat dideteksi radar jarak jauh. Rudal jelajah bergerak lebih rendah dan lebih sulit diidentifikasi. Drone menambah kerumitan karena bisa berukuran kecil, bergerak lambat, dan sulit dibedakan dari objek lain, terlebih jika dikerahkan dalam jumlah besar.

Tekanan pada cakupan radar, sistem komando, dan rudal pencegat bisa meningkat drastis ketika ketiga jenis senjata itu datang bersamaan. Efektivitas sistem pertahanan udara modern sendiri bergantung pada sejumlah faktor, termasuk jenis rudal, lintasan, kecepatan, ketinggian, serta waktu respons yang tersedia.

Rudal Houthi yang Bisa Bermanuver

Houthi memiliki rudal balistik dan sistem canggih yang dilengkapi hulu ledak yang dapat bermanuver atau mengubah arah saat terbang. Kemampuan ini menjadi tantangan tersendiri bagi rudal pencegat Patriot maupun sistem pertahanan lain yang digunakan Arab Saudi.

Salah satu pejabat menyebut penyelidikan juga bertujuan mencari tahu mengapa sistem pertahanan udara tidak memberikan peringatan lebih awal mengenai serangan tersebut. Padahal jarak tempuh rudal dan drone Houthi tergolong jauh, yang semestinya memberi ruang deteksi lebih panjang.

Mengapa Serangan Balasan Juga Sulit

Upaya melumpuhkan kekuatan serang Houthi lewat serangan balasan dan operasi preemptif menghadapi kendala serupa. Pengeboman yang dilakukan Amerika Serikat pada 2025 menunjukkan sulitnya menghancurkan kemampuan milisi tersebut.

Kemampuan Houthi meningkat pesat beberapa tahun terakhir, sebagian berkat bantuan dan investasi dari Iran. Kondisi ini membuat pendekatan militer semata tidak cukup untuk menutup celah pertahanan.

Pelajaran dari Kegagalan Intersepsi

Thomas Juneau, analis keamanan di Universitas Ottawa, menilai luasnya wilayah Arab Saudi menjadi persoalan mendasar dalam pertahanan udara.

"Sistem pertahanan udara Saudi memang mampu mencegat beberapa serangan rudal dan drone Houthi, tapi wilayah Arab Saudi begitu luas sehingga mustahil bagi mereka terus-menerus bisa mempertahankan diri dari setiap serangan," ujar Juneau.

Analis lain menyoroti bahwa sistem pertahanan udara Israel yang dibanggakan sekalipun sempat gagal menghentikan rudal balistik yang nyaris menghantam Bandara Ben Gurion tahun lalu. Serangan ke Riyadh ini mengungkap tingkat keberhasilan intersepsi yang tinggi terhadap satu pola serangan tidak serta merta menjamin hasil yang sama saat harus menghadapi kombinasi senjata berbeda.

Bagi Arab Saudi, yang merupakan pembelanja senjata terbesar kedelapan dunia, temuan penyelidikan ini menjadi dasar untuk mengevaluasi ulang cara sistem pertahanan udara menghadapi serangan gabungan. Hasil penyelidikan diharapkan menjelaskan titik lemah yang perlu ditambal sebelum pola serangan serupa terulang.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top