DI YOGYAKARTA — Jakarta — Karyawan BUMN seperti pegawai Telkom atau BRI kerap dihadapkan pada situasi sulit: harus tersedia 24 jam untuk grup kerja, tapi juga tak ingin melewatkan pesan keluarga. Sebelumnya, solusi praktisnya adalah membawa dua ponsel—satu untuk urusan kantor, satu lagi untuk pribadi. Kini, WhatsApp menghadirkan fitur resmi yang memutus rantai repot itu.
Kenapa Fitur Multi-Akun Dibutuhkan Sekarang?
WhatsApp telah berevolusi dari sekadar aplikasi chat menjadi tulang punggung komunikasi bisnis dan sosial. Data internal Meta menunjukkan pengguna Indonesia menghabiskan rata-rata 3,5 jam per hari di aplikasi ini, menjadikannya platform pesan instan paling dominan.
Dahulu, keterbatasan teknis membuat satu aplikasi hanya bisa menampung satu nomor telepon. Konsekuensinya, banyak profesional terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli ponsel kedua. Fitur multi-akun ini secara langsung menekan pengeluaran tersebut—terutama bagi pekerja lepas atau pelaku UMKM binaan BRI yang modalnya terbatas.
Cara Aman Menambahkan Akun Tanpa Aplikasi Pihak Ketiga
Prosedur resmi dari WhatsApp terbilang sederhana. Pengguna cukup membuka menu Pengaturan (ikon tiga titik di pojok kanan atas), lalu klik tanda panah kecil di samping nama profil, dan pilih "Tambah Akun". Masukkan nomor telepon kedua yang aktif untuk menerima kode verifikasi via SMS.
Setelah terverifikasi, masing-masing akun bisa diatur profil, foto, dan notifikasinya secara terpisah. Keunggulan utama metode ini adalah keamanan data tetap terjamin oleh enkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end encryption) milik Meta.
"Banyak pengguna tergiur aplikasi modifikasi seperti GBWhatsApp demi fitur tambahan. Padahal riset keamanan siber menunjukkan aplikasi semacam itu rawan pencurian data pribadi, penyadapan pesan, hingga pemblokiran akun permanen," jelas seorang pakar keamanan digital yang enggan disebut namanya.
Dampak Langsung: Hemat Biaya, Tapi Boros Baterai
Dari sisi efisiensi, fitur ini jelas menguntungkan. Tidak perlu lagi membeli ponsel kedua atau repot membawa dua gawai sekaligus. Pemisahan identitas juga membantu profesionalisme—foto profil dan status untuk grup kerja bisa berbeda dengan untuk keluarga.
Namun ada konsekuensi teknis yang perlu diantisipasi. Menjalankan dua akun secara aktif berarti aplikasi melakukan sinkronisasi data dua kali lipat lebih sering. Dampaknya langsung terasa pada konsumsi baterai dan penggunaan RAM ponsel. Pengguna ponsel kelas menengah ke bawah mungkin akan merasakan perlambatan performa.
Risiko lain yang tak kalah penting adalah potensi salah kirim pesan. Jika pengguna tidak teliti melihat indikator akun yang sedang aktif, pesan pribadi bisa saja nyasar ke grup kantor—dan sebaliknya.
Apa Langkah Selanjutnya?
Meta diprediksi akan terus mengembangkan fitur ini, termasuk kemungkinan menambahkan lebih dari dua akun dalam satu perangkat. Untuk saat ini, pengguna disarankan memanfaatkan jalur resmi ketimbang aplikasi pihak ketiga yang berisiko.
Bagi pekerja BUMN atau siapapun yang mengandalkan WhatsApp untuk komunikasi kerja dan pribadi, fitur multi-akun ini menjadi terobosan yang layak dicoba—asalkan siap dengan trade-off pada performa ponsel.