BANTUL — Sebanyak 1.560 batang rokok ilegal tanpa pita cukai diamankan Satpol PP Bantul dalam operasi gabungan bersama Bea Cukai Yogyakarta. Sasaran penggerebekan adalah toko dan tempat usaha di Kapanewon Jetis dan Imogiri yang terindikasi menjual produk ilegal.
Imogiri Jadi Temuan Terbanyak, Capai 1.480 Batang
Kepala Seksi Penindakan dan Penegakan Perundang-undangan Satpol PP Bantul Sri Hartati mengungkapkan, dari dua lokasi yang dirazia, wilayah Kapanewon Imogiri menyumbang temuan paling besar. "Di wilayah Kapanewon Imogiri jumlah temuan mencapai 1.480 batang rokok ilegal, di Jetis ditemukan sebanyak 80 batang," jelasnya di Yogyakarta, Rabu.
Seluruh barang bukti yang disita langsung diserahkan kepada petugas Bea Cukai Yogyakarta untuk ditindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku. "Semua barang bukti yang ditemukan telah ditangani oleh Bea Cukai sebagai instansi yang berwenang dalam pengawasan dan penindakan barang kena cukai," kata Sri Hartati.
Edukasi ke Pemilik Toko: Jangan Terima Barang dari Pemasok Tak Jelas
Dalam operasi itu, petugas tidak hanya menyita barang bukti. Mereka juga memberikan sosialisasi dan edukasi kepada para pemilik toko yang terindikasi menjual rokok ilegal. Tujuannya agar mereka paham risiko hukum dan dampak ekonomi dari perbuatan tersebut.
"Agar pemilik toko lebih selektif lagi menerima barang dari pemasok serta tidak menjual produk yang tidak dilengkapi pita cukai resmi," tegas Sri Hartati.
Rokok Ilegal Dinilai Rusak Pasar dan Rugikan Negara
Menurut Sri Hartati, peredaran rokok ilegal berpotensi menimbulkan persaingan usaha tidak sehat. Pasalnya, produk tanpa cukai ini umumnya dijual dengan harga lebih murah ketimbang rokok legal. Lebih dari itu, praktik ini juga merugikan negara dari sisi penerimaan cukai.
"Kesadaran pelaku usaha sangat penting untuk memutus mata rantai peredarannya," ujarnya.
Operasi gabungan ini merupakan bagian dari pengawasan rutin terhadap barang kena cukai di wilayah Bantul. Peredaran rokok ilegal masih kerap ditemukan di sejumlah daerah, terutama di toko kelontong dan warung kecil yang kurang selektif dalam memilih pemasok.