DI YOGYAKARTA — Dalam forum tersebut, Kepala BRIN Arif Satria mengajukan usulan penguatan anggaran yang difokuskan pada modernisasi laboratorium dan revitalisasi infrastruktur vital nasional, termasuk fasilitas ketenaganukliran untuk energi, industri, dan kesehatan. Arif menyebutkan perlunya lompatan besar agar peneliti Indonesia tak kehilangan daya saing global.
"Riset tidak boleh sekadar berakhir sebagai tumpukan kertas publikasi, melainkan harus bertransformasi menjadi solusi konkret dan kebijakan berbasis bukti empiris," ujar Arif dalam pemaparannya.
Tiga Inovasi Prioritas yang Diapresiasi Legislator
BRIN memaparkan sejumlah capaian riset yang dinilai langsung menjawab persoalan nasional. Di sektor mitigasi bencana, mereka memperkenalkan Teknologi Peredam Gempa untuk meningkatkan resiliensi infrastruktur di wilayah rawan gempa. Sementara itu, untuk ketahanan pangan, para periset berhasil mengembangkan varietas padi Biosalin yang toleran terhadap salinitas tinggi.
Di sektor energi dan tata kelola urban, BRIN terus mendorong implementasi fasilitas pengolah sampah menjadi energi listrik (PSEL). Para anggota dewan memberikan masukan agar riset pangan terus diperbaiki untuk menghasilkan varietas dengan tingkat produksi lebih tinggi.
Sosiologi Masyarakat dan Risiko Inovasi Terhenti
Komisi X memberikan catatan penting agar penerapan teknologi hasil riset selalu mempertimbangkan pendekatan sosiologi masyarakat. Tujuannya, inovasi yang lahir tidak menemui resistensi budaya dan benar-benar dapat dimanfaatkan publik. Hetifah secara khusus menggarisbawahi pentingnya kesinambungan program.
"Inovasi BRIN harus terus berkelanjutan dan pantang terhenti di tengah jalan hanya karena adanya pergantian kepemimpinan," tegas Hetifah.
DPR juga mendesak agar riset BRIN difokuskan pada kebutuhan mendesak masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. Secara spesifik, mereka meminta perhatian lebih pada riset pengobatan penyakit diabetes mengingat tingginya jumlah penderita di Indonesia.
Ekosistem Baru: Rumah Inovasi Indonesia
BRIN turut memaparkan gagasan ekosistem kolaborasi bertajuk Rumah Inovasi Indonesia. Platform ini dirancang sebagai jembatan untuk mempertemukan hasil riset peneliti dengan ekosistem industri, investor, serta jejaring filantropi guna mengakselerasi hilirisasi produk teknologi.
Sebagai bentuk dukungan dan pengawasan nyata, Komisi X DPR RI merencanakan kunjungan lapangan dalam waktu dekat untuk melihat langsung berbagai inovasi BRIN yang telah berjalan. Arif Satria menyambut positif rencana tersebut seraya menekankan bahwa forum komunikasi riset dan inovasi antarlembaga harus terus berjalan untuk mencegah tumpang tindih program.