Pencarian

Ribuan Abdi Dalem dan Warga Jogja Ikuti Ritual Mubeng Beteng Malam 1 Suro, Jalan Sunyi 5 Kilometer untuk Introspeksi Diri

Rabu, 17 Juni 2026 • 13:55:01 WIB
Ribuan Abdi Dalem dan Warga Jogja Ikuti Ritual Mubeng Beteng Malam 1 Suro, Jalan Sunyi 5 Kilometer untuk Introspeksi Diri
Ribuan abdi dalem dan warga mengikuti ritual Mubeng Beteng di Yogyakarta pada malam 1 Suro.

YOGYAKARTA — Ribuan abdi dalem Keraton Yogyakarta dan warga dari berbagai daerah memadati area benteng keraton pada Selasa (16/6/2026) malam. Mereka mengikuti ritual Lampah Budaya Mubeng Beteng, tradisi tahunan yang digelar setiap menjelang pergantian tahun baru Islam atau malam 1 Suro.

Ritual ini dimulai tepat pukul 00.00 WIB dari Kamandungan Lor atau area Bangsal Ponconiti. Para peserta berjalan rapi dalam keheningan total mengitari jalur luar benteng sepanjang kurang lebih 5 kilometer, lalu kembali ke titik awal.

Apa Makna di Balik Jalan Sunyi Mubeng Beteng?

KRT. Wijayapamungkas, anggota Paguyuban Abdi Dalem, menjelaskan bahwa keheningan selama ritual bukan sekadar tradisi tanpa makna. "Sambil berjalan kita meneng (diam), menengnya itu bukan meneng dalam arti pasif tapi meneng dalam sambil berdoa, sambil mengevaluasi apakah yang saya lakukan yang kemarin. Kalau jelek kita kembalikan kepada yang benar," ujarnya.

Filosofi topo bisu ini menjadi inti dari rangkaian ritual. Para peserta diajak untuk melakukan introspeksi atau evaluasi diri atas segala perbuatan selama setahun terakhir. Di samping itu, doa bersama juga dipanjatkan agar Indonesia, khususnya Yogyakarta, senantiasa dalam keadaan ayem-ayem tentrem atau damai dan tenteram.

Rangkaian Prosesi: Wayang Gedhog hingga Macapat

Sebelum puncak ritual jalan sunyi, rangkaian acara diawali dengan gelaran wayang gedhog di Alun-alun Selatan Kota Yogyakarta. Setelah pementasan wayang, para abdi dalem melanjutkan prosesi dengan pembacaan tembang macapat.

"Yang terlibat semua abdi dalem dan masyarakat umum. Abdi dalem diperkirakan ribuan plus nanti dari masyarakat umum," kata KRT. Wijayapamungkas saat ditemui di sela acara.

Antusiasme Warga: "Sekali Seumur Hidup"

Warga dari berbagai daerah di DIY turut meramaikan ritual ini. Surya Herdianto (30), warga Kabupaten Sleman, mengaku baru pertama kali mengikuti Mubeng Beteng. Ia sengaja mengajak teman-temannya untuk merasakan langsung atmosfer sakral malam 1 Suro.

"Sebenarnya kita baru pertama kali ikut Mubeng Beteng ini sekalian ingin ngajak teman-teman ayo kita ikut," kata dia. Surya dan rekan-rekannya kompak mengenakan busana khas Yogyakarta agar lebih menjiwai esensi prosesi. "Iya semakin mendalam maknanya," tambahnya.

Warga lainnya, Puput Ficky Fendy, menyampaikan bahwa sebagai orang yang lama tinggal di Yogyakarta, dirinya merasa perlu mengikuti agenda Mubeng Beteng setidaknya sekali. "Jadi sebagai warga Jogja seenggaknya sekali seumur hidup ngikutin tradisi rutin malam suronan," ujarnya.

Puput mengaku tidak melakukan persiapan khusus selain menjaga kondisi fisik. "Karena tengah malam jadi istirahat dulu aja gitu tadi. Kalau persiapan khusus enggak ada," katanya.

Ritual Mubeng Beteng menjadi salah satu tradisi budaya yang masih lestari di Yogyakarta. Selain sebagai warisan leluhur, tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata spiritual yang mampu menyedot ribuan peserta setiap tahunnya.

Bagikan
Sumber: yogyakarta.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks