Dibintangi Matthew Rhys sebagai Tom Loftis, seorang duda yang juga wali kota di kota kecil pesisir bernama Widow’s Bay, serial ini langsung menyuguhkan premis yang tidak biasa. Tom berambisi mengubah kota berpenduduk sedikit itu menjadi destinasi wisata musim panas yang trendi. Namun, rencana besarnya segera berbenturan dengan kejadian supernatural yang mulai muncul bersamaan dengan kedatangan seorang jurnalis perjalanan dari New York Times.
Ketika Ambisi Pariwisata Bertemu Teror Mistis
Kedatangan Arthur Lloyd (Bashir Salahuddin), penulis perjalanan yang bisa mewujudkan impian Tom, menjadi titik awal kekacauan. Sebuah kabut misterius menyelimuti kota, dan seorang penduduk lokal bernama Wyck (Stephen Root) memperingatkan Tom bahwa kabut itu pertanda pulau tersebut sedang "bangun". Artinya, lebih banyak kejadian supranatural akan segera terjadi.
Para kritikus menyebut serial ini sebagai perpaduan antara karya Stephen King, Parks and Recreation, dan Twin Peaks. Namun, Widow’s Bay tetap memiliki identitasnya sendiri sebagai “binatang buas” yang orisinal dan menyegarkan.
Pujian dari Sutradara Ternama hingga Kritikus
Yang menarik, serial ini mendapat pujian dari nama-nama besar seperti Guillermo del Toro, Ben Stiller, dan Damon Lindelof (Lost). Mereka memuji cara Widow’s Bay memberi penghormatan pada trope horor klasik sambil menciptakan ulang elemen-elemen tersebut dengan cara yang mengejutkan.
“Serial ini sangat mudah untuk ditonton secara maraton, adiktif, dan memberi penghormatan pada semua trope horor klasik sambil menciptakan ulang mereka dengan cara yang mengejutkan,” tulis salah satu ulasan. Nada komedi yang cerdas berhasil menyeimbangkan elemen horor tanpa mengurangi ketegangan.
Mengapa Serial Ini Layak Ditonton?
Bagi penonton Indonesia yang bosan dengan horor jumpscare murahan, Widow’s Bay menawarkan pendekatan berbeda. Humor gelap dan karakter-karakter eksentrik membuat serial ini terasa ringan meskipun temanya gelap. Chemistry antara Rhys dan Salahuddin menjadi daya tarik utama, ditambah penampilan Stephen Root yang selalu solid.
Belum ada informasi mengenai ketersediaan subtitle bahasa Indonesia. Namun, mengingat Apple TV+ semakin agresif memasarkan layanannya di Asia Tenggara, bukan tidak mungkin serial ini akan segera mendapatkan dukungan bahasa lokal. Satu hal yang pasti: Widow’s Bay adalah bukti bahwa horor dan komedi bisa berpadu dengan sempurna — selama ada tangan kreatif yang berani mengambil risiko.