YOGYAKARTA — Langit yang berbulan-bulan terik akhirnya berubah. Hujan turun merata di hampir seluruh DIY, menjadi guyuran pertama setelah sekitar 160 hari tanpa hujan signifikan.
Bantul dan sekitarnya termasuk wilayah yang mencatat hari tanpa hujan lebih dari 160 hari. Kemarau terasa lebih berat karena pengaruh Super El Niño yang masih kuat.
Dampak kemarau panjang paling terasa di sektor air bersih. Sejumlah desa sempat kesulitan mendapatkan pasokan, hingga air menjadi barang langka.
BPBD DIY rutin menyalurkan air bersih ke warga terdampak. Petani juga mengeluhkan lahan kering dan sulitnya mengairi tanaman selama musim kemarau.
Hujan yang datang kini memberi sedikit napas lega. Meski volume belum deras di semua titik, kehadirannya cukup menyegarkan udara.
Banyak warga segera memanfaatkan kesempatan menampung air hujan. Jalanan yang sebelumnya berdebu kini basah dan lebih sejuk.
Beberapa pengendara sempat melihat busa putih di permukaan aspal setelah hujan turun. Fenomena itu biasa muncul saat hujan pertama membersihkan sisa debu, oli, dan kotoran yang menumpuk selama kemarau.
BMKG DIY sebelumnya memprediksi curah hujan masih rendah hingga akhir Oktober. Awal musim hujan resmi diperkirakan baru tiba antara akhir November hingga Desember 2026.
Hujan pada Sabtu belum menandai berakhirnya kemarau sepenuhnya. Masyarakat diminta tetap hemat air dan waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di masa peralihan.
Meski begitu, guyuran pertama ini tetap menjadi kabar gembira setelah berbulan-bulan menanti.