YOGYAKARTA — Simposium yang digelar secara hybrid ini diikuti sekitar 250 peserta secara luring. Kegiatan tersebut mengusung tema "Melalui Integrasi Ilmu, Spiritualitas, dan Kebangsaan: Penguatan Ideologi Pancasila dalam Perspektif Integratif, Interkonektif, dan Transformatif".
Pendidikan Pancasila Tak Lagi Cukup dengan Hafalan Lima Sila
Ketua Panitia Simposium, Prof Eva Latipah, mengungkapkan tantangan terbesar saat ini bukan pada kemampuan mahasiswa menghafal lima sila, melainkan bagaimana nilai-nilai itu diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari maupun praktik profesional. Menurutnya, pendidikan Pancasila harus bergeser dari pendekatan normatif menuju pembelajaran yang mampu menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan persoalan nyata di berbagai bidang.
"Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal Pancasila. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi cara berpikir, cara mengambil keputusan, sekaligus menjadi landasan etis dalam setiap disiplin ilmu," kata Direktur Centre for Integrative, Interconnected, and Transformative Studies (CIINTRA) UIN Sunan Kalijaga tersebut.
Ilmu, Agama, dan Riset Harus Berjalan Bersama
Kepala BPIP, Prof Yudian Wahyudi, mengingatkan bahwa kemunduran suatu bangsa terjadi ketika ilmu pengetahuan dan teknologi dipisahkan dari nilai-nilai agama. Ia mencontohkan sejarah peradaban Islam di Andalusia yang mengalami kemunduran setelah tradisi keilmuan eksperimental dan teknologi ditinggalkan.
"Ilmu, agama, dan riset harus berjalan bersama. Bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi bangsa yang memimpin peradaban," tegasnya.
Paradigma Integratif untuk Semua Bidang Keilmuan
Pihak UIN Sunan Kalijaga terus mengembangkan paradigma integratif, interkonektif, dan transformatif. Paradigma ini mempertemukan ilmu pengetahuan, spiritualitas, kemanusiaan, dan kebudayaan dalam satu kerangka keilmuan yang utuh. Rektor Noorhaidi Hasan berharap melalui simposium ini lahir model pendidikan Pancasila yang integratif sehingga nilai-nilainya hadir dalam seluruh bidang keilmuan, mulai dari kesehatan, teknologi, ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan.
BPIP menilai UIN Sunan Kalijaga yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga sains dan teknologi, serta memiliki karakter kebangsaan yang kuat, harus menjadi fondasi penting mewujudkan visi Indonesia sebagai bangsa maju di masa depan.