YOGYAKARTA — Ribuan pelari dari berbagai penjuru Indonesia memadati jantung Kota Yogyakarta untuk mengikuti ajang Jogja 10K 2026. Perhelatan yang mengusung tema “Every Step Tells A Story” ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi fisik, tetapi juga berhasil menggerakkan roda ekonomi daerah melalui sektor pariwisata dan perhotelan.
Data penyelenggara mencatat sekitar 80 persen dari total 9.000 peserta berasal dari luar daerah. Arus kedatangan wisatawan minat khusus ini terpantau sudah mulai memadati area Malioboro dan sekitarnya sejak sesi konferensi pers dan pengambilan paket lomba pada Sabtu (2/5) di Plaza Malioboro.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengonfirmasi lonjakan tajam tingkat hunian kamar hotel di wilayah Kota Yogyakarta. Menurutnya, dampak ekonomi dari kegiatan sport tourism seperti ini jauh lebih terasa karena durasi tinggal wisatawan yang lebih lama.
“Sampai saat ini tingkat hunian hotel di Kota Yogyakarta hampir mencapai 90 persen, bahkan mendekati penuh. Tidak hanya hotel, pelaku UMKM juga merasakan manfaatnya. Aktivitas kota meningkat dan jalan-jalan mulai padat sejak beberapa hari terakhir,” ujar Deddy.
Pihaknya berharap agenda Jogja 10K dapat menjadi kalender rutin tahunan. Tingginya minat peserta dari luar DIY membuktikan bahwa integrasi antara olahraga dan wisata budaya memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi pasar domestik.
Berbeda dengan lomba lari pada umumnya, Jogja 10K 2026 memanfaatkan lanskap sejarah Malioboro sebagai daya tarik utama. Peserta disuguhi atraksi budaya dan keramahan warga di sepanjang rute untuk memberikan pengalaman berlari yang unik.
Project Director Jogja 10K 2026, Sentanu Wahyudi, menjelaskan bahwa konsep kegiatan ini memang dirancang untuk merangkul komunitas lari lintas provinsi. Yogyakarta dipilih karena memiliki infrastruktur geografis dan kekuatan narasi budaya yang tidak dimiliki kota lain.
“Kami didukung oleh 105 komunitas dari Sabang sampai Merauke. Ini bukan hanya event lari, tetapi juga momentum rekreasi dan kebersamaan. Sepanjang rute, peserta akan disambut dengan berbagai atraksi budaya dan keramahan masyarakat,” kata Sentanu.
Panitia menyediakan tiga kategori utama untuk mengakomodasi berbagai level kemampuan peserta. Selain kategori utama 10K yang bersifat kompetitif, tersedia pula 5K fun run bagi pemula serta heritage fun walk sejauh 3 kilometer bagi peserta yang ingin menikmati suasana kota dengan lebih santai.
Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan apresiasi penuh terhadap inisiatif ini. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan bahwa pemerintah terus berkomitmen menyediakan ruang publik yang mendukung gaya hidup sehat sekaligus memperkuat identitas budaya kota.
“Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara atas inisiatif Jogja 10K tahun 2026. Ini bukan sekedar ajang olahraga, tetapi juga pengalaman yang menggabungkan aktivitas fisik dengan keindahan serta keaslian budaya di Kota Yogyakarta,” ungkap Wawan.
Wawan menambahkan bahwa keberhasilan acara ini memperkokoh posisi Yogyakarta sebagai destinasi sport tourism unggulan di Indonesia. Dengan tingginya partisipasi masyarakat dan dampak ekonomi yang nyata, Pemkot Yogyakarta optimistis sektor pariwisata berbasis kegiatan (event-based tourism) akan terus tumbuh positif pada tahun-tahun mendatang.