GUNUNGKIDUL — Ratusan kilometer jalanan perbukitan karst dan perkotaan dilahap puluhan rider dalam Touring Bergerak Bersama 2026. JNE menggandeng Forum Jurnalis Jogja (FJ2) dalam agenda CSR yang berlangsung Jumat (15/5/2026) lalu. Start dari Kantor JNE Yogyakarta di Sorogenen, Umbulharjo, rombongan bergerak ke arah timur menembus kawasan wisata hingga pelosok Gunungkidul.
Kepala JNE Cabang Yogyakarta, Adi Subagyo, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar konvoi. “Kami mendukung kegiatan teman-teman jurnalis yang mengemasnya lewat kegiatan touring. Kami berharap peran media dapat mendukung UMKM di Yogyakarta untuk semakin berkembang,” kata Adi saat melepas rombongan.
Singgah di Panti Asuhan, Serahkan Santunan untuk 69 Penghuni
Perhentian pertama adalah Panti Asuhan Almarina di Srimpi, Karangmojo. JNE menyerahkan santunan, Alquran, dan bingkisan kepada pengelola. Pendamping panti, Alex Andriansah, menyebut lokasi ini menampung 69 orang, mulai dari anak-anak, penyandang disabilitas, lansia, hingga ibu hamil dan gelandangan pengemis.
Kompleks panti tidak hanya berisi tempat tinggal. Di dalamnya terdapat sekolah alam, shelter ibu hamil, serta panti jompo yang menyatu dalam satu kawasan. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian dari JNE dan teman-teman jurnalis,” ujar Alex.
Berlanjut ke Kedai Kopi, Roastery Pertama di Gunungkidul
Setelah menuntaskan agenda sosial, para rider melanjutkan perjalanan sekitar lima kilometer menuju Kota Wonosari. Tujuan berikutnya adalah Katamata & Roastery di Selang, sebuah kedai kopi yang menjadi ikon baru UMKM setempat.
Pemiliknya, Edi Dwi Atmaja, memulai bisnis ini pada 2016. Sebelumnya, alumnus Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini sempat menjadi dosen di Bogor dan membuka angkringan yang tidak berhasil. “Akhirnya memutuskan bikin roastery sendiri. Dan, menjadi coffee shop pertama di Gunungkidul yang memiliki roastery,” ungkap Edi.
Kopi Gunungkidul yang Pahit dan Tahan Cuaca Ekstrem
Edi mengaku sempat kesulitan mendapatkan biji kopi berkualitas. Ia pernah mendatangkan kopi dari luar daerah, tapi ongkos kirimnya terlalu mahal. Kini, ia meracik sendiri kopi Gunungkidul yang dinikmati hingga ke berbagai kota di Jawa. Ciri khasnya? Rasa lebih pahit karena kadar mineral tinggi.
“Pohon kopi tumbuh di perbukitan karst sehingga tahan kurang air,” jelas Edi. Kedai yang dikelola bersama istrinya ini lebih banyak menjual varian susu, kreamer, atau matcha sebagai pelengkap non-kopi. Untuk pengiriman, ia rutin mengirim 5-10 kilogram kopi dua hingga tiga kali seminggu—dan tetap setia menggunakan JNE.
Harapan Ketua FJ2: Touring Bawa Keberkahan
Ketua FJ2, Chaidir, berharap tali silaturahmi antara jurnalis dan JNE mendatangkan keberkahan. “Melalui kegiatan touring mengantarkan kebaikan, kami ingin terus bersinergi dengan masyarakat dan pelaku UMKM,” katanya. Rute yang dilewati juga mencakup spot ikonik seperti Tebing Breksi, Candi Ijo, Obelix, dan Gunung Purba Nglangeran.
Selain kopi Gunungkidul, Edi juga menyuguhkan varian dari Aceh Tengah, Enrekang, Priangan, Bondowoso, hingga Temanggung. Ia berharap kopi lokal bisa terus bersaing tanpa harus bergantung pada pasokan luar daerah.