DI YOGYAKARTA — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan, pihaknya bertemu langsung dengan pejabat Zarubezhneft di sela-sela sidang. Dalam pertemuan itu, perusahaan asal Rusia tersebut menegaskan komitmennya untuk kembali menggarap proyek yang sempat mandek.
"Kami bertemu dengan Zarubezhneft dan membahas kelanjutan proyek Blok Tuna yang masih tertunda. Zarubezhneft menyatakan komitmennya untuk melanjutkan proyek tersebut pada Juni bulan depan. Pemerintah akan memberikan dukungan untuk kelanjutan proyek ini," ujar Yuliot dalam pernyataan resmi di Kazan, Rabu (13/5) waktu setempat.
Kronologi Proyek dan Mitra yang Mundur
Proyek Blok Tuna sebelumnya mengalami kemacetan setelah Premier Oil, anak usaha Harbour Energy yang menjadi mitra Zarubezhneft, memutuskan mundur. Padahal, Zarubezhneft sudah mengakuisisi 50% participating interest (PI) di proyek tersebut pada 2020 melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd.
Mundurnya Premier Oil membuat proses pengembangan lapangan migas di kawasan Natuna itu terhenti. Namun, setelah adanya komunikasi intensif antara pemerintah Indonesia dan Rusia, proyek ini kembali menemukan titik terang.
Zarubezhneft Incar Proyek Migas Lain di Indonesia
Tak hanya memastikan kelanjutan Blok Tuna, Zarubezhneft juga menyatakan ketertarikan untuk memperluas investasi di Indonesia. Perusahaan tersebut ingin menggarap proyek-proyek migas baru, khususnya yang membutuhkan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan reaktivasi sumur idle.
Langkah ini dinilai sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan produksi migas nasional. Minat Zarubezhneft untuk berinvestasi lebih dalam sudah tercatat dalam dokumen Agreed Minutes SKB ke-14 RI-Rusia.
Dalam dokumen tersebut, pihak Rusia secara eksplisit mencatat keinginan Zarubezhneft untuk memperkuat kerja sama dengan mitra lokal, termasuk kemungkinan berpartisipasi dalam proyek bersama dengan perusahaan minyak dan gas bumi milik negara Indonesia.
Dampak bagi Industri Hulu Migas Nasional
Kepastian kelanjutan Blok Tuna menjadi angin segar bagi industri hulu migas Indonesia yang tengah gencar mencari investasi baru. Dengan kembalinya Zarubezhneft, aktivitas pengeboran dan produksi di kawasan Natuna diharapkan bisa segera bergulir kembali.
Pemerintah sendiri berjanji akan memberikan dukungan penuh, termasuk kemudahan regulasi dan perizinan, agar proyek strategis ini tidak lagi mengalami hambatan di masa mendatang.