Pencarian

Rupiah Melemah ke Level Terendah Rp17.500/US$ Dipicu Eskalasi Konflik AS-Iran dan Ancaman Strait of Hormuz

Selasa, 12 Mei 2026 • 10:09:32 WIB
Rupiah Melemah ke Level Terendah Rp17.500/US$ Dipicu Eskalasi Konflik AS-Iran dan Ancaman Strait of Hormuz
Rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS di tengah eskalasi konflik AS-Iran.

DI YOGYAKARTA — Merujuk data Refinitiv, rupiah menembus level terendah Rp17.500/US$ pada pukul 09.15 WIB, merepresentasikan pelemahan 0,43% dari pembukaan pagi di level Rp17.480/US$. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,21% ke posisi 98,115, menunjukkan aliran dana masif ke mata uang keamanan sambil investor menjauhi aset berisiko termasuk mata uang berkembang.

Konflik Iran: Ketegangan Memuncak di Negosiasi Gencatan Senjata

Kemunduran dalam perundingan gencatan senjata memicu volatilitas global. Trump menyatakan respons Teheran terhadap proposal Washington "sama sekali tidak dapat diterima," sementara pihak Iran bersikeras pada enam tuntutan strategis—penghentian konflik di semua front, kompensasi kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tanpa serangan lanjutan, pemulihan ekspor minyak, dan kendali penuh atas Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa militer Teheran siap merespons setiap agresi. Gencatan senjata yang telah berlaku sejak 7 April diakui Trump kini "sangat rapuh," menciptakan ketidakpastian bagi pasar energi dan mata uang.

Harga Minyak Terdorong Naik, Pasokan Global Terancam Terkontraksi

Ketegangan geopolitik langsung tercermin di pasar komoditas. Harga minyak Brent Crude melonjak lebih dari 3% menembus US$104 per barel, didorong kekhawatiran gangguan arus kapal di Selat Hormuz yang mencatat penyusutan drastis.

Produsen minyak telah memangkas ekspor sebagai respons terhadap penyempitan lalu lintas di jalur kritis tersebut. Scenario ini menambah tekanan inflasioner pada ekonomi global dan memperkuat posisi dolar Amerika sebagai safe-haven, sekaligus menciptakan headwind bagi mata uang emerging markets seperti rupiah.

Sanksi Baru AS dan Persiapan Dialog Trump-Xi

Pemerintahan Trump memperkuat tekanan ekonomi dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang memfasilitasi ekspor minyak Iran ke China, yang merupakan pembeli utama crude Teheran. Langkah ini memicu ketegangan perdagangan di antara Washington dan Beijing.

Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing hari Rabu, dengan isu Iran dan perdagangan diperkirakan menjadi agenda utama. Di dalam negeri, survei menunjukkan dua dari tiga warga Amerika belum menerima penjelasan Trump yang memadai tentang tujuan eskalasi perang tersebut, menambah kompleksitas respons pasar.

Implikasi bagi Investor dan Pelaku Bisnis Indonesia

Pelemahan rupiah ke level tertinggi dalam sejarah menciptakan tantangan bagi importir yang membutuhkan dolar dan peluang bagi eksportir dengan penerimaan dolar. Kenaikan harga minyak—dipicu ketakutan pasokan global—dapat mendorong inflasi energi dan tekan margin keuntungan sektor transportasi, logistik, dan manufaktur.

Jika ketegangan mempertahankan momentum, volatilitas pasar uang akan terus berlanjut, mendorong Peraturan Sistem Pembayaran BI untuk mengawasi aliran modal keluar dan mengambil langkah stabilisasi rupiah. Investor equity sebaiknya memantau respons kebijakan BI dan perkembangan negosiasi AS-Iran dalam 48 jam ke depan, mengingat resolusi perundingan dapat memicu rerating risiko yang signifikan.

Bagikan
Sumber: cnbcindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks