SLEMAN — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengonfirmasi lonjakan jumlah korban keracunan makanan dalam acara pamitan haji di Dusun Getas Toragan, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati. Sebanyak 69 orang dilaporkan mengalami gejala medis serupa usai menyantap hidangan dalam hajatan yang diselenggarakan pasangan suami istri setempat.
Data terbaru ini muncul setelah tim medis melakukan pelacakan dan wawancara mendalam terhadap 92 orang yang hadir atau mengonsumsi makanan dari acara tersebut. Hasilnya, sebagian besar responden mengonfirmasi adanya keluhan kesehatan yang merujuk pada gejala keracunan makanan.
Pihak Dinkes Sleman bergerak cepat dengan menerjunkan tim ke lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan epidemiologi (PE). Langkah ini diambil guna memetakan persebaran kasus serta memastikan seluruh warga yang terdampak mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Petugas di lapangan mengumpulkan keterangan detail mengenai kronologi kejadian, jenis makanan yang disajikan, hingga waktu munculnya gejala pertama pada para korban. Penyelidikan ini menjadi dasar bagi otoritas kesehatan untuk menentukan status kejadian dan langkah mitigasi agar kasus serupa tidak meluas di wilayah lain.
Dari total 92 warga yang berhasil diwawancarai oleh petugas kesehatan, 69 orang di antaranya terkonfirmasi mengalami gejala klinis keracunan seperti mual, muntah, dan pusing. Angka ini menunjukkan tingkat serangan (attack rate) yang cukup tinggi dari satu sumber kegiatan masyarakat.
Tim medis terus memantau perkembangan kondisi para korban, baik yang menjalani perawatan mandiri di rumah maupun yang membutuhkan bantuan di fasilitas kesehatan terdekat. Selain melakukan wawancara, petugas juga berupaya mengamankan sisa makanan jika masih tersedia untuk keperluan uji laboratorium.
Fokus utama otoritas kesehatan saat ini adalah pemulihan kondisi fisik warga yang terdampak. Petugas puskesmas setempat disiagakan untuk memberikan layanan darurat jika ada warga yang mengalami perburukan gejala secara tiba-tiba.
Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan epidemiologi masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti kontaminasi, apakah berasal dari bahan baku, proses pengolahan, atau faktor lingkungan saat penyajian. Warga diimbau untuk segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat jika merasakan gejala serupa setelah mengonsumsi hidangan dari acara yang sama.