Komisi Eropa pada Selasa (15/4) memerintahkan Meta untuk memberikan akses tanpa biaya kepada chatbot AI kompetitor di dalam platform WhatsApp. Perintah ini merupakan intervensi darurat yang jarang terjadi dan akan berlaku hingga Komisi menyelesaikan investigasi antimonopoli terhadap perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut.
Langkah Brussels ini memperluas medan pertempuran antara raksasa teknologi global dengan otoritas persaingan usaha Eropa. Pekan lalu, Apple mengumumkan tidak akan merilis Siri AI di Uni Eropa bersamaan dengan peluncuran iOS 27 dan iPadOS 27 musim gugur mendatang. Alasannya: regulator menolak seluruh proposal kompromi yang diajukan Apple selama enam bulan terakhir.
Meta sebenarnya sempat mengizinkan AI pihak ketiga beroperasi di WhatsApp hingga Oktober tahun lalu. Setelah itu, perusahaan mulai memungut biaya akses. Brussels menilai pungutan tersebut dirancang untuk menghalangi kompetisi dan melanggar Digital Markets Act (DMA).
“Keputusan ini adalah bentuk intervensi sementara untuk mencegah kerusakan kompetitif yang tidak dapat dipulihkan,” demikian pernyataan resmi Komisi Eropa. Meta membantah tuduhan tersebut. Perusahaan menyatakan antarmuka AI-nya tidak pernah dirancang untuk chatbot dari pihak luar.
Regulasi DMA mewajibkan perusahaan yang ditetapkan sebagai “gatekeeper” untuk membuka layanan inti mereka bagi pesaing. Untuk Apple, ini berarti Siri AI harus bisa digantikan oleh asisten suara pihak ketiga. Bagi Meta, WhatsApp harus menjadi platform netral yang bisa diakses oleh AI mana pun.
Craig Federighi, senior vice president of Engineering Apple, menyebut keputusan perusahaannya menunda Siri AI di Eropa sebagai langkah yang “sangat mengecewakan”. Ia menuding regulator tidak bersedia terlibat secara konstruktif dalam mencari solusi yang tetap menjaga privasi dan keamanan pengguna.
“Harapan kami adalah pada akhirnya bisa menghadirkan Siri AI ke Uni Eropa, dan kami akan terus berdialog dengan regulator,” ujar Federighi. “Namun penolakan mereka terhadap solusi yang melindungi privasi dan keamanan berarti saat ini kami belum memiliki jadwal ketersediaan.”
Kebijakan ini berpotensi mengubah WhatsApp dari sekadar aplikasi pesan menjadi semacam sistem operasi mini untuk chatbot. Pengguna di Eropa nantinya bisa memanggil asisten dari Google, Microsoft, atau startup AI langsung dari jendela percakapan tanpa harus membayar biaya tambahan ke Meta.
Namun Meta memperingatkan bahwa membuka sistemnya secara paksa bisa menimbulkan risiko keamanan. Perusahaan mencontohkan bahwa arsitektur teknis WhatsApp saat ini tidak didesain untuk menampung puluhan AI asing yang beroperasi secara independen di dalamnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal awal bagaimana negara-negara lain, termasuk Indonesia melalui Kominfo, bisa mengadopsi pendekatan serupa. Regulasi interoperabilitas layanan digital kini menjadi isu global yang tak terhindarkan.
Perintah darurat ini bersifat sementara. Komisi Eropa memiliki waktu 12 bulan untuk menyelesaikan investigasi penuh terhadap praktik bisnis Meta. Jika terbukti melanggar DMA, perusahaan bisa didenda hingga 10 persen dari pendapatan global tahunannya — angka yang bisa mencapai miliaran dolar.
Sementara itu, Apple masih bungkam soal kemungkinan merilis Siri AI di luar Eropa dengan fitur yang berbeda. Pertarungan antara inovasi produk dan kepatuhan regulasi ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.