Maskulinitas Hegemonik di Balik Piala Dunia 2026: Feminisme Bongkar Budaya Sepak Bola yang Timpang

Penulis: Indra Firmansyah  •  Senin, 29 Juni 2026 | 18:30:02 WIB
Piala Dunia 2026 memicu diskusi tentang maskulinitas hegemonik dalam budaya sepak bola.

DI YOGYAKARTA — Turnamen Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 negara dipuji sebagai simbol inklusivitas. Namun, bagi perspektif feminis, perluasan jumlah peserta tidak otomatis menghapus sekat-sekat diskriminasi gender yang sudah membudaya dalam olahraga paling populer di dunia ini.

Akar Maskulinitas Hegemonik dalam Sepak Bola

Sosiolog gender Raewyn Connell memperkenalkan konsep maskulinitas hegemonik—bentuk maskulinitas dominan yang dianggap sebagai standar ideal. Ciri-cirinya meliputi kekuatan fisik, agresivitas, dan daya saing. Sepak bola menjadi salah satu ruang paling kuat yang merepresentasikan nilai-nilai ini.

Sejak kecil, anak laki-laki didorong bermain bola sebagai penanda "kelaki-lakian". Sebaliknya, anak perempuan yang menekuni olahraga ini kerap dianggap menyimpang dari norma gender. Pemberitaan media pun masih jauh lebih banyak menyorot kompetisi pria, meski kualitas sepak bola wanita terus meningkat.

Konstruksi Sosial Bukan Kodrat Alam

Pemikiran Judith Butler tentang performativitas gender menjelaskan bahwa gender terus diproduksi melalui tindakan berulang. Iklan, pemberitaan, hingga budaya suporter terus menampilkan sepak bola sebagai arena laki-laki. Masyarakat pun menerima anggapan bahwa olahraga ini "secara alami" milik laki-laki—padahal itu adalah hasil konstruksi sejarah, bukan kodrat.

Nasionalisme dan Moral yang Terabaikan

Piala Dunia menjadi panggung nasionalisme. Setiap kemenangan dipersepsikan sebagai kemenangan bangsa, dan tubuh pemain laki-laki ditempatkan sebagai simbol negara. Akibatnya, prestasi sering menjadi "modal moral" yang dianggap mampu menghapus perilaku bermasalah di luar lapangan.

Fenomena ini menjelaskan mengapa publik lebih sibuk membahas jumlah gol dibanding rekam jejak kekerasan berbasis gender yang melibatkan pemain profesional. Sepak bola memiliki sejarah panjang kasus kekerasan seksual, termasuk terhadap pasangan dan pelecehan perempuan.

Kasus Thomas Partey: Antara Hukum dan Lapangan Hijau

Salah satu contoh paling gamblang adalah gelandang Ghana, Thomas Partey. Ia menghadapi dugaan lima perkosaan dan satu pelecehan seksual oleh Kepolisian Metro London sejak Juli 2025. Pada Februari lalu, Partey juga dijerat dua tuduhan pemerkosaan tambahan. Namun, di tengah proses hukum tersebut, ia tetap tampil membela negaranya di Piala Dunia 2026 dan mendapat dukungan sebagian suporter.

Di sisi lain, Partey dicekal dari Kanada dan dilarang tampil pada laga pembuka di Toronto, Rabu (17/6/2026). Pemerintah Ghana merespons dengan mengupayakan diplomasi ke pemerintah Kanada, menekankan "asas praduga tak bersalah". Federasi Sepak Bola Inggris (FA) sempat mempertimbangkan melarang pemain Inggris menyapa Partey, namun urung melaksanakannya.

Pertanyaan yang Jarang Diajukan

Bagi feminisme, persoalan sepak bola tidak pernah hanya tentang siapa yang bermain di lapangan. Yang lebih penting adalah bagaimana kuasa bekerja: siapa yang dianggap layak menjadi pahlawan, siapa yang suaranya diabaikan, dan siapa yang menanggung biaya sosial dari budaya maskulin yang terus dipertahankan. Piala Dunia 2026, dengan segala gegap gempitanya, justru menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga—ia adalah institusi budaya yang perlu terus dipertanyakan.

Reporter: Indra Firmansyah
Sumber: konde.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top