YOGYAKARTA — Prof. Akif Khilmiyah menegaskan bahwa pendidikan seks kerap dianggap tabu di masyarakat, padahal pemahaman yang benar justru menjadi tameng utama. Ia menjelaskan, literasi ini bukan bertujuan mengajarkan perilaku seksual, melainkan membekali individu agar mampu menjaga diri dan memahami batasan interaksi.
Mengapa Pendekatan Nilai Islam Diperlukan?
Menurut Prof. Akif, literasi seksualitas dalam perspektif Islam tidak hanya mencakup aspek biologis reproduksi. Lebih dari itu, kata dia, penanaman nilai moral, rasa malu (haya'), tanggung jawab, serta penghormatan terhadap martabat manusia menjadi fondasi utama.
"Kita perlu menanamkan rasa malu, amanah, dan ihsan sejak dini. Ketika pendidikan, karakter, dan nilai spiritual berjalan bersama, itulah benteng terkuat untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual," ujarnya di Yogyakarta, Jumat.
Mengenali Modus Manipulasi Psikologis
Guru besar UMY itu menyoroti maraknya praktik grooming atau manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku kekerasan seksual. Modus ini diawali dengan membangun kedekatan dan kepercayaan korban secara bertahap.
"Anak-anak dan remaja perlu memahami bahwa tidak semua perhatian memiliki niat tulus. Mereka harus mampu mengenali tanda-tanda manipulasi agar tidak mudah menjadi korban," kata Prof. Akif.
Ia menambahkan, edukasi harus diberikan secara bertahap sejak di lingkungan keluarga hingga jenjang pendidikan tinggi. Hal ini diperlukan agar peserta didik dapat membedakan interaksi yang sehat dengan perilaku yang mengarah pada pelecehan maupun eksploitasi.
Membangun Pengendalian Diri Melalui Spiritualitas
Dalam perspektif psikologi Islam, literasi ini bertujuan membentuk pengendalian diri melalui keseimbangan antara akal, nafsu, dan hati. Pembinaan nilai agama menjadi kunci agar seseorang mampu mengendalikan dorongan yang berpotensi mengarah pada perilaku menyimpang.
Prof. Akif menekankan bahwa penguatan literasi seksualitas harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter Islami. Nilai amanah, ihsan, serta kesadaran akan pengawasan Tuhan dalam setiap tindakan menjadi elemen yang tidak terpisahkan.
"Pendidikan seks bukan bertujuan mengajarkan perilaku seksual, melainkan membekali seseorang agar mampu menjaga diri, menghormati orang lain, serta memahami batasan dalam berinteraksi agar terhindar dari kekerasan," pungkasnya.