YOGYAKARTA — Anggapan umum bahwa biaya kuliah menjadi beban terberat bagi mahasiswa tidak sepenuhnya benar bagi Haninnaja Kevina Shenaya. Penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) di Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) ini justru menemukan bahwa pengeluaran terbesar bersumber dari kebutuhan harian dan penunjang perkuliahan.
Mahasiswi Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi UMBY itu menyebut kunci utama bertahan adalah menjaga gaya hidup tetap terukur. "Selama bisa menjaga gaya hidup tetap terukur dan tidak tergiur perilaku konsumtif, pengeluaran bulanan masih sangat bisa dikendalikan. Keinginan untuk ikut tren atau gaya hidup tertentu itu wajar di usia mahasiswa, tapi saya selalu ingat batas dan prioritas kebutuhan utama," ujarnya di Yogyakarta, Sabtu.
Tekanan IPK Jadi Motivasi, Bukan Beban
Syarat mempertahankan beasiswa dengan IPK minimal 2,75 justru diubah Hanin menjadi bahan bakar motivasi. Alih-alih tertekan, ia menjadikan standar itu sebagai pendorong untuk lebih disiplin mengatur waktu belajar.
Hasilnya, pada semester empat ia berhasil mengantongi IPK 3,88. Ia juga aktif terlibat dalam tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan sejumlah lomba inovasi digital.
Dua Strategi Menghindari Jebakan Finansial
Untuk mencegah pengeluaran membengkak, Hanin menerapkan dua metode sederhana namun efektif. Pertama, ia selalu mencatat arus keuangan melalui aplikasi di ponsel agar setiap transaksi terpantau. Kedua, ia menerapkan aturan jeda tujuh hari sebelum membeli barang non-esensial.
"Kalau setelah seminggu keinginan membeli barang itu hilang, berarti barang tersebut memang tidak benar-benar dibutuhkan," jelasnya.
Menjadi Asisten Dosen untuk Tambah Penghasilan
Meski belum mengambil pekerjaan purna waktu demi fokus pada akademik dan organisasi, Hanin tetap produktif mencari penghasilan tambahan. Ia memilih menjadi asisten dosen, yang sekaligus menjadi sarana memperdalam materi kuliah.
"Dari situ saya sadar, memaksakan diri berlebihan justru bikin hasil merosot. Kuncinya kembali ke skala prioritas dan menyusun jadwal harian agar kesehatan serta nilai kuliah tidak dikorbankan," tuturnya.
Definisi Nyata Kemerdekaan Belajar
Bagi Hanin, makna paling realistis dari merdeka keuangan pendidikan adalah ketika mahasiswa bisa fokus menuntut ilmu tanpa terbebani tagihan. "Bisa kuliah tenang tanpa memikirkan tagihan SPP atau uang gedung adalah bentuk kemerdekaan belajar yang sangat nyata buat saya," katanya.
Ia mengingatkan calon mahasiswa yang ragu karena kendala biaya bahwa beasiswa bukan jalan pintas yang menanggung seluruh urusan hidup. "Jadi, mulailah bergerak dari sekarang. Rajin cari informasi beasiswa, asah manajemen waktu, dan terus upgrade kapasitas diri. Jangan cuma menunggu, karena doa yang kuat harus diimbangi dengan aksi nyata," pesannya.
Ke depan, ia berharap dapat lulus dengan IPK memuaskan dan mengaplikasikan ilmunya untuk masyarakat. Ia juga berharap semakin sedikit anak muda yang harus memendam mimpi kuliah hanya karena persoalan biaya.